UEA keluar dari OPEC, percepat strategi energi dan ekonomi baru
Selasa, 05 Mei 2026

JAKARTA - Uni Emirat Arab (UEA) menegaskan keputusan keluar dari OPEC tidak ditujukan kepada negara mana pun, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi nasional.
CEO ADNOC sekaligus Menteri Industri dan Teknologi Maju UEA, Sultan Al Jaber, menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya diversifikasi ekonomi di luar sektor bahan bakar fosil.
“Keputusan kedaulatan Uni Emirat Arab untuk memposisikan diri kembali dalam lanskap energi global, dan untuk keluar dari OPEC dan OPEC+, bukanlah keputusan yang ditujukan kepada siapa pun,” tercatat dalam forum Make It In The Emirates di Abu Dhabi, seperti dikutip channelnewsasia.
Keputusan yang mulai berlaku Jumat lalu itu muncul setelah berbulan-bulan ketegangan dengan Arab Saudi terkait kebijakan produksi minyak, arah politik luar negeri, dan konflik Timur Tengah. Hubungan kedua negara yang sebelumnya erat berubah menjadi rivalitas sejak perbedaan sikap dalam konflik Yaman.
UEA selama ini menentang pembatasan produksi yang didorong Arab Saudi. Kuota OPEC membatasi produksi Emirat di kisaran 3,4 juta barel per hari, sementara Abu Dhabi menargetkan peningkatan kapasitas hingga 5 juta barel per hari pada 2027.
Al Jaber menegaskan keputusan keluar dari kartel energi itu sepenuhnya didorong kepentingan nasional. “Keluar dari OPEC sesuai dengan kepentingan nasional dan tujuan strategis jangka panjang kita, selaras dengan ambisi industri, ekonomi, dan pembangunan kita, serta memberi kita kemampuan yang lebih besar untuk mempercepat investasi, ekspansi, dan menciptakan nilai,” katanya.
Ia menambahkan langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi ekonomi yang lebih luas. “Ini adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk membentuk kembali ekonomi dan basis industri kita melalui visi yang menghubungkan energi, teknologi, dan industri, menyelaraskan sumber daya kita dengan prioritas nasional untuk membangun ekonomi yang lebih kuat dan tangguh.”
Analis menilai keluarnya UEA produsen terbesar keempat di OPEC mengurangi kemampuan kartel dalam mengendalikan harga minyak global sekaligus memperdalam ketegangan dengan Arab Saudi.
Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei menyatakan negaranya tetap meninggalkan OPEC “dalam hubungan yang baik”, meski perbedaan terkait kuota produksi terus berlanjut.
Di saat yang sama, UEA mempercepat ekspansi sektor energi dan industri. ADNOC berkomitmen menggelontorkan investasi sebesar US$55 miliar dalam dua tahun ke depan, dengan sebagian dana dialihkan untuk mendukung pengembangan sektor nonmigas seperti kecerdasan buatan.(DH)
Pemerintah juga mendorong kemandirian industri pertahanan. Penasihat presiden UEA sekaligus Ketua EDGE Group, Faisal Al Bannai, menyebut 85 persen ancaman drone telah ditangani dengan teknologi jammer buatan dalam negeri.
“Dalam beberapa tahun ke depan, kami bertekad bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan pertahanan udara akan sepenuhnya menjadi kemampuan UEA ... diproduksi di UEA,”ujarnya.(DH)