India siapkan langkah tarik dolar asing saat rupee tertekan

Selasa, 05 Mei 2026

image

JAKARTA - Reserve Bank of India (RBI) mengkaji sejumlah langkah untuk menarik arus masuk dolar guna memperkuat cadangan devisa dan menahan tekanan terhadap rupee, seiring lonjakan harga minyak akibat konflik Iran.

Seperti dikutip Reuters, tiga sumber yang mengetahui pembahasan menyebut bank sentral mempertimbangkan kebijakan untuk meningkatkan likuiditas valas di tengah arus keluar modal yang meningkat. Rupee telah melemah 5,5% sepanjang tahun ini dan sempat menyentuh rekor terendah 95,33 per dolar pekan lalu.

Cadangan devisa India turun dari puncak US$728,5 miliar menjadi sekitar US$698 miliar, meski RBI menyatakan level tersebut masih cukup untuk menutup 11 bulan impor. Namun, tekanan baru mendorong otoritas memperkuat bantalan eksternal.

Salah satu opsi yang dibahas adalah menghidupkan kembali skema 2013 untuk menarik simpanan dolar dari diaspora India (non-resident Indians). Skema serupa sebelumnya berhasil menghimpun sekitar US$26 miliar saat krisis nilai tukar.

Opsi lain adalah menghapus pajak pemotongan 5% bagi investor asing di obligasi pemerintah untuk mendorong aliran dana masuk. “Keduanya sedang dipertimbangkan secara serius,” kata salah satu sumber, seraya menambahkan keputusan akhir terkait pajak berada di tangan kementerian keuangan federal. Belum ada keputusan final, dan setiap kebijakan akan ditempuh bersama pemerintah. RBI dan kementerian keuangan belum memberikan tanggapan resmi.

Tekanan terhadap rupee meningkat sejak konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran memasuki bulan ketiga, memicu kenaikan harga energi global. Sepanjang 2026, arus keluar dari pasar saham mencapai sekitar US$20,6 miliar, melampaui total sepanjang 2025.

Sementara itu, arus masuk ke obligasi pemerintah melambat, hanya sekitar US$1,1 miliar tahun ini dibanding US$6,5 miliar pada 2025. RBI juga telah mengambil langkah jangka pendek, termasuk membatasi arbitrase perbankan dan mendorong perusahaan minyak mengurangi pembelian dolar di pasar spot.

Gubernur RBI, Sanjay Malhotra, menyebut cadangan devisa masih "memadai",namun analis menilai angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan daya intervensi karena adanya komitmen forward senilai sekitar US$104 miliar.

Ekonom Vivek Kumar dari QuantEco Research menilai porsi emas dalam cadangan meningkat, sehingga mengurangi aset valas likuid. “Berlanjutnya krisis Timur Tengah dapat semakin memperburuk defisit impor,” ujarnya, menekankan perlunya kebijakan tambahan untuk menekan defisit perdagangan dan menarik arus modal masuk.(DH)