Asia hadapi ancaman ganda: 'Super El Nino' dan krisis energi

Selasa, 05 Mei 2026

image

BANGKOK – Asia yang saat ini masih terhuyung-huyung akibat dampak konflik di Timur Tengah, kini menghadapi prospek kondisi Super El Nino kuat yang dapat melonjakkan permintaan energi, menguras kapasitas tenaga air, dan merusak hasil pertanian.

Mengutip laporan dari The Straits Times (05/05/26), Badan Cuaca dan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa pada minggu lalu menyatakan bahwa kondisi El Nino dapat berkembang segera setelah Mei hingga Juli. Sementara itu, World Meteorological Organization (WMO) menyebut tanda-tanda awal mengindikasikan peristiwa ini bisa sangat kuat.

Beberapa pihak bahkan menjulukinya sebagai “Super El Nino”, meskipun istilah tersebut tidak digunakan oleh para ilmuwan.

El Nino sendiri adalah fenomena iklim alami yang terjadi sekitar setiap dua hingga tujuh tahun, didasarkan pada suhu laut, dan membawa perubahan global pada pola angin, tekanan udara, serta curah hujan.

Datangnya ancaman cuaca ekstrem ini memperburuk posisi Asia yang tengah tertekan oleh krisis pasokan energi dan kekhawatiran atas kekurangan pupuk serta komponen industri dan pertanian lain yang biasa melewati Selat Hormuz.

Iran secara efektif telah menutup jalur air strategis tersebut sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke negara itu pada 28 Februari, yang pada akhirnya mengganggu pasokan bahan bakar global.

Cuaca yang lebih panas akan semakin menekan jaringan energi yang sudah mengalami kekurangan bahan bakar karena populasi berusaha mendinginkan rumah dan tempat kerja mereka. Haneea Isaad, spesialis keuangan energi di Institute for Energy Economics and Financial Analysis, memperingatkan dampak sistemiknya kepada AFP:

“Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyak dan gas serta perdagangan lainnya, pasokan yang tegang akan mengarah pada penjatahan bahan bakar lebih lanjut, manajemen sisi permintaan, dan pengurangan aktivitas ekonomi... yang berdampak pada pertumbuhan PDB secara keseluruhan.”

Bagi wilayah seperti Indonesia, El Nino pada dasarnya menggeser pola cuaca tradisional dengan memindahkan hujan yang biasanya turun di daratan ke laut, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.

Dr. Peter van Rensch, Ilmuwan Iklim di Monash University, menyatakan bahwa anomali bawah permukaan yang terlihat sejauh ini cukup kuat. Meskipun masih banyak ketidakpastian dan ada kemungkinan El Nino tidak berkembang sama sekali, ia mengingatkan peristiwa ini memiliki kemiripan dengan kejadian 1997/98, yang kemungkinan merupakan El Nino terkuat.

Sebagai catatan, El Nino 1997 membawa dampak bencana berupa kekeringan ekstrem dan kebakaran liar dahsyat di Indonesia yang membakar jutaan hektare dan menciptakan polusi udara regional.

Saat ini, otoritas di Indonesia telah mengidentifikasi lahan gambut yang berisiko dan memperingatkan bahwa negara itu dapat mengalami curah hujan terendah dalam 30 tahun. Di bagian lain Asia, seperti China selatan, El Nino justru dapat membawa hujan lebat dan memicu banjir yang berdampak pada panen padi akhir musim, tambah Isaad.

Selain ancaman pada sektor bahan bakar dan agrikultur, kekeringan akibat El Nino menimbulkan risiko bagi negara-negara yang sangat bergantung pada tenaga air (hydropower).

Dr. Dinita Setyawati, analis energi senior untuk Asia di Ember, memperingatkan bahwa sebagian besar negara ASEAN menggunakan tenaga air dalam jumlah besar. Ia menyoroti kawasan Mekong, Nepal, dan sebagian Malaysia sebagai wilayah yang sangat rentan karena ketergantungan pada sektor ini.

Risiko nyata telah terlihat pada 2022, ketika gelombang panas di China membuat pembangkit listrik tenaga air di Sichuan anjlok lebih dari 50%, sehingga memicu kekurangan listrik bagi rumah tangga dan industri.

Setyawati menegaskan bahwa energi surya dan angin yang dipadukan dengan baterai dapat memberikan infrastruktur yang lebih tangguh dibanding sistem berbasis bahan bakar fosil yang terpusat.

Di sektor pertanian, kondisi yang lebih panas dan kering akan menciptakan risiko baru karena konflik yang sedang berlangsung telah meningkatkan biaya pupuk dan bahan bakar untuk peralatan pertanian.

BMI memperingatkan bahwa jika harga hasil panen tidak naik cukup untuk menutupi biaya input dan pengiriman yang lebih tinggi, margin produsen akan tertekan. Hal ini meningkatkan kemungkinan penggunaan pupuk yang lebih rendah dan hasil panen yang lebih lemah.

Dampaknya, inflasi harga pangan dapat meningkat dan ketidakamanan pangan akan memburuk, terutama di pasar yang rentan terhadap iklim dan bergantung pada impor.

Meski penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim akan membawa gelombang panas yang lebih sering serta hujan lebat mendadak yang memicu banjir, bagaimana perubahan iklim secara spesifik memengaruhi kemunculan dan kekuatan El Nino masih belum dipahami dengan baik. (SF)