Ketegangan Timur Tengah angkat dolar, yen jadi sorotan

Selasa, 05 Mei 2026

image

NEW YORK - Dolar Amerika Serikat menguat terhadap euro seiring konflik di Timur Tengah yang membuat investor tetap waspada, sementara yen sempat menguat tajam sehingga memicu kembali spekulasi intervensi oleh otoritas Jepang.Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,2% ke level 98,404, mengutip dari Reuters.Meski sempat melemah dari puncak pasca serangan AS ke Iran pada awal Maret, indeks ini masih mendapat dukungan karena belum adanya penyelesaian konflik di kawasan tersebut.Pasar global membuka pekan dengan hati-hati setelah kantor berita Iran melaporkan dua rudal menghantam kapal perang AS di dekat Jask, Teluk Oman, setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan Iran saat memasuki Selat Hormuz.Namun, United States Central Command membantah laporan tersebut dan menyatakan dua kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS memasuki kawasan itu untuk menembus blokade Iran, sementara dua kapal dagang AS berhasil melintasi Selat Hormuz.Direktur trading Monex USA, Juan Perez, mengatakan ketidakpastian akibat blokade menjadi faktor utama yang menahan pergerakan pasar. Selama situasi belum jelas, dolar cenderung bertahan kuat.Namun, ia menilai minat risiko akan langsung meningkat jika tercapai kesepakatan damai, yang berpotensi menekan dolar.Euro melemah 0,2% ke US$1,1694 setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz berupaya meredakan ketegangan dengan Presiden AS terkait rencana penarikan pasukan dari Jerman.Di sisi lain, European Commission juga tengah berkomunikasi dengan Washington setelah rencana kenaikan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa menjadi 25%.Analis valuta asing SEB, Amanda Sundström, menilai isu tarif otomotif bukan faktor utama penggerak pasar saat ini.Menurutnya, perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor dominan, dan deeskalasi konflik akan berdampak positif bagi euro.Di pasar Asia, dolar sedikit melemah 0,06% terhadap yen setelah mata uang Jepang sempat menguat hingga 0,75% ke level 155,69.Pergerakan ini kembali memicu spekulasi intervensi oleh Ministry of Finance Japan, meskipun otoritas belum memberikan konfirmasi resmi.Kepala strategi FX G10 BBVA, Roberto Cobo Garcia, menyebut peluang intervensi cukup besar mengingat dampak inflasi dari pelemahan yen serta dukungan cadangan devisa Jepang yang kuat.Ia memperkirakan otoritas akan berupaya menjaga nilai tukar dolar-yen tetap di bawah level 160 seperti pada 2024.Sumber Reuters menyebut otoritas Jepang kemungkinan telah membeli yen untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dengan potensi nilai intervensi mencapai 5,48 triliun yen atau sekitar US$35 miliar.Sementara itu, poundsterling melemah 0,3% ke US$1,35365 di tengah libur nasional di Inggris.Dolar Australia juga turun 0,4% ke US$0,7174, menjelang keputusan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 4,35%.Di pasar kripto, Bitcoin naik 1,4% ke US$80.046, menembus level US$80.000 untuk pertama kalinya sejak 31 Januari. (DK)