Tsingshan garap smelter aluminium raksasa di Maluku Utara

Selasa, 05 Mei 2026

image

JAKARTA - Tsingshan Holding Group menjajaki pembangunan smelter aluminium baru senilai US$3 miliar di Indonesia, seiring lonjakan minat pasar akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Seperti dikutip Alcircle, sejumlah sumber menyebut rencana proyek tersebut tengah dibahas dengan calon mitra dan akan berlokasi di Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas 800 ribu ton per tahun dan dibangun dalam dua tahap.

Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat produksi aluminium baru, didorong investasi besar dari China dan meningkatnya permintaan global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan produksi di sejumlah smelter utama, mendorong pembeli mencari sumber alternatif seperti Indonesia.

Data Fastmarkets menunjukkan total produksi aluminium Indonesia saat ini sekitar 1,1 juta ton per tahun dan berpotensi meningkat menjadi 1,98 juta ton pada 2026, dengan prospek jangka panjang mencapai 15,35 juta ton.

Ekspansi kapasitas juga datang dari berbagai proyek lain, termasuk kolaborasi Tsingshan dengan Xinfa serta investasi dari grup industri besar seperti Shandong Weiqiao, Harita Group, dan Nanshan Group.

Seorang sumber pasar menyebut waktu pembangunan masih dalam tahap awal, namun produksi diperkirakan bisa dimulai dalam dua tahun. Pelaku pasar menilai skala proyek besar tersebut tetap realistis untuk diselesaikan dalam waktu satu hingga dua tahun.

Permintaan aluminium Indonesia turut terdorong oleh gangguan pasokan global. Konflik di Timur Tengah, termasuk dampak pada smelter seperti Emirates Global Aluminium dan Aluminium Bahrain, telah menekan produksi dan memperketat pasar.

Menurut analis Fastmarkets, kapasitas smelter di Timur Tengah diperkirakan turun menjadi 3,445 juta ton pada 2026 dari 6,151 juta ton pada 2025, atau merosot sekitar 44%.

Kondisi ini mendorong premi aluminium global tetap tinggi. Harga bahkan berpotensi menembus US$4.000 hingga US$5.000 per ton dalam skenario eskalasi lebih lanjut, meski saat ini masih di bawah level tersebut.(DH)