Rupiah dekati Rp17.500/US$, intervensi BI kurang agresif?

Selasa, 05 Mei 2026

image

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan pelemahan dan menyentuh level terendahnya di Rp17.446/US$ hingga Selasa (5/5) siang.

Pelemahan sebesar 0,30% itu, menambah total depresiasi rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun ini mencapai 4,59%.

Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Hutapea, mengaku bank sentral telah melakukan upaya stabilitasi rupiah lewat intervensi di pasar valuta asing (valas), seperti dikutip Bloomberg.

Mulai dari intervensi rupiah di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga offshore, pasar spot, hingga pasar sekunder untuk obligasi negara.

Hal ini sejalan dengan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April kemarin, yang menahan suku bunga acuan di 4,75% dalam rangka membantu stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah,” ungkap Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat mengumumkan hasil RDG bulan lalu.

Kalah Saing di Asia

Dari kawasan emerging market Asia Pasifik, sejumlah mata uang bergerak campuran terhadap dolar AS. Won Korea memimpin penguatan 0,27% lalu disusul yuan China yang menguat tipis 0,16%.

Mata uang lain seperti rupee India memimpin pelemahan 0,31% terhadap dolar AS, lalu disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,19% dan baht Thailand 0,16%.

Head Of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan nilai tukar rupiah saat ini kalah saing dengan mata uang lain seperti peso Filipina dan dong Vietnam.

Dalam catatan yang disampaikan kepada investor pada Senin (4/5), ia menyebut upaya intervensi bank sentral terhadap rupiah memang terkesan tidak masif, lantaran harga minyak mentah dunia tetap tinggi di atas US$100 per barel.

“Jika BI memaksakan all-out melindungi rupiah dengan guyur likuiditas US$, takutnya cadangan devisa cepat terkuras,” jelas Liza.

Ia pun yakin BI tetap menjalankan mekanisme intervensi terhadap rupiah. Namun porsinya diyakini tidak seberapa agresif agar amunisi tidak terbuang percuma, di tengah pergerakan nilai tukar yang gradual.

Di sisi lain, kata Liza, menguatnya dolar AS terhadap rupiah justru berpotensi menghadirkan keuntungan bagi pemain komoditas dalam negeri. (KR)