Tertekan lonjakan harga minyak, ADB pangkas pertumbuhan ekonomi Asia
Rabu, 06 Mei 2026

JAKARTA - Negara-negara di kawasan Asia, yang menjadi pengimpor minyak terbesar dunia, menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat krisis energi imbas perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
Tekanan itu mendorong Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia di kisaran 4,7% untuk 2026 dan 4,8% pada 2027, lebih rendah dari proyeksi awal yang berada di level 5,1%. Bank tersebut juga menaikkan proyeksi inflasi tahun ini menjadi 5,2%.
Gangguan pasokan membuat impor minyak Asia, yang menyerap sekitar 85% pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk anjlok 30% secara tahunan pada April 2026.
Penurunan ini terjadi setelah Iran memperketat pengetatan akses di Selat Hormuz dalam 2 bulan terakhir, yang mengganggu seperlima pasokan minyak dan gas global.
Tekanan fiskal meningkat di berbagai negara, terutama Asia Selatan, karena pemerintah menggelontorkan subsidi dan keringanan pajak untuk meredam lonjakan harga energi.
“Garis pertahanan pertama ... adalah bahwa pemerintah memutuskan untuk menyerap guncangan awal dengan memberikan subsidi atau memotong bea cukai produk bahan bakar,” ujar Hanna Luchnikava-Schorsch dari S&P Global Market Intelligence, seperti dikutip Reuters.
Di India, kilang minyak yang mayoritas dikelola negara, menahan harga bahan bakar tetap stabil, meski mengalami kerugian akibat lonjakan harga minyak dunia. Namun sejumlah analis memperkirakan penyesuaian harga bisa terjadi setelah pemilu negara bagian berakhir.
China sebagai importir minyak terbesar dunia memperkuat cadangannya dan membatasi ekspor bahan bakar, meski tetap membuka pengecualian bagi sejumlah negara mitra.
Goldman Sachs menilai dampak ekonomi perang Iran terhadap Asia belum separah perkiraan awal. Namun bank investasi ini tetap memangkas proyeksi pertumbuhan Jepang dan sejumlah negara Asia Tenggara, serta mempertanyakan seberapa tingkat ketahanan ekonomi kawasan ini.
“Seberapa besar ketahanan yang ada sejauh ini mencerminkan faktor struktural dibandingkan dengan penurunan cadangan yang tidak berkelanjutan?” kata analis Goldman.
Di pasar valuta asing, mata uang Asia berkembang tertekan, dengan peso Filipina, rupee India, dan rupiah Indonesia mencatat level terendah baru terhadap dolar AS.
Sementara itu, respons tiap negara berbeda.
Indonesia membatasi ekspor LNG dan mengalihkan pasokan ke dalam negeri, Thailand menahan pembelian minyak, sedangkan Jepang meningkatkan pembelian minyak dari AS dan mulai melepas cadangan strategis sebesar 36 juta barel.
Di Asia Selatan, negara seperti Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka dinilai paling rentan karena kemampuan fiskal yang terbatas dan tingginya ketergantungan terhadap impor energi. (DH/KR)