Ekspor aluminium dan tembaga China melonjak, mengapa?
Rabu, 06 Mei 2026

TIONGKOK - Ekspor logam dari China, terutama aluminium, mengalami peningkatan signifikan akibat perang di Timur Tengah yang mengganggu pasokan regional sekaligus mendorong permintaan produk teknologi bersih seiring melonjaknya harga bahan bakar fosil.
Pengiriman produk aluminium dari pusat manufaktur terbesar dunia ini diperkirakan mencapai rekor tahun ini, menurut asosiasi industri terkemuka China.
Di saat yang sama, tembaga, yang digunakan dalam teknologi bersih seperti baterai, juga diprediksi akan ikut diuntungkan, mengutip dari Bloomberg.
Pasar komoditas global, mulai dari logam hingga minyak dan gas, terguncang oleh konflik antara AS, Israel, dan Iran yang pecah pada akhir Februari dan menyebabkan Selat Hormuz praktis tertutup.
Serangan terhadap pabrik peleburan aluminium di Teluk Persia telah mengganggu produksi dari kawasan yang menyumbang sekitar 9% pasokan dunia, mendorong harga ke level tertinggi dalam empat tahun di London bulan lalu.
Kondisi ini menjadi keuntungan bagi produsen di China, yang sebelumnya terdampak krisis properti domestik yang berkepanjangan.
Di sektor energi, konflik Iran telah mendorong lonjakan harga minyak mentah dan gas alam, membuat produk teknologi bersih semakin menarik dan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil.
Produsen baterai besar China, Gotion High-Tech Co. Ltd., menyatakan adanya peningkatan fokus global terhadap transisi hijau. Menurut penasihat senior di Centre for Research on Energy and Clean Air, Xinyi Shen, kondisi ini semakin memperkuat dominasi China karena keunggulan biaya, skala produksi, dan integrasi rantai pasok.
Namun, aluminium primer China tidak mudah diakses pasar global karena kebijakan tarif ekspor yang menjaga pasokan tetap di dalam negeri.
Hal ini memperbesar dampak gangguan pasokan dari kawasan Teluk, sehingga selisih harga antara London dan Shanghai mencapai level tertinggi sejak 2022.
Premi harga di luar negeri bahkan disebut “sangat tinggi” oleh pejabat asosiasi industri logam nonferrous China. Situasi ini memicu lonjakan permintaan arbitrase.
Sejak akhir Maret, produsen aluminium di China menerima lebih banyak pesanan luar negeri, terutama untuk produk yang digunakan dalam jaringan listrik dan industri otomotif.
Beberapa pabrik penggilingan panas bahkan telah penuh pesanan hingga Juni, didorong oleh permintaan dari sektor kendaraan listrik, sel baterai, pelat pendingin untuk penyimpanan energi, dan pusat data.
Ekspor aluminium strand, yang digunakan dalam jaringan listrik, diperkirakan melonjak dua kali lipat dibanding tahun lalu, mencapai 40.000 hingga 50.000 ton pada April–Mei, terutama ke negara-negara Belt and Road.
Tren serupa juga terjadi pada tembaga dan produk terkait energi terbarukan. Ekspor kabel dan kawat tembaga naik 36% pada Maret dibanding tahun sebelumnya.
Pengiriman sel surya melonjak 80%, sementara baterai lithium-ion naik 34%, meskipun penghapusan insentif pajak dapat memperlambat pertumbuhan ke depan.
Ekspor kendaraan listrik China juga naik 53% pada Maret.
Kenaikan harga minyak diperkirakan akan mempertahankan kekuatan ekspor kendaraan listrik dan, pada akhirnya, permintaan tembaga dalam beberapa bulan mendatang.
Harga bahan bakar fosil yang tinggi juga meningkatkan permintaan energi surya dan baterai, terutama di negara dengan keterbatasan listrik.
Ekspor China mencerminkan tren ini, khususnya ke Asia Tenggara dan Afrika, di mana bisnis mulai beralih ke kombinasi energi surya dan penyimpanan untuk mengurangi penggunaan diesel.
Sementara itu, permintaan domestik China masih lemah. Penjualan kendaraan listrik di dalam negeri melambat, dan pertumbuhan permintaan tembaga diperkirakan turun menjadi 2,8% tahun ini dari 3,8% tahun lalu. (DK)