Blue Owl berencana jual data center di Asia senilai US$30 miliar

Rabu, 06 Mei 2026

image

JAKARTA - Operator pusat data Blue Owl dikabarkan tengah mempertimbangkan penjualan bisnisnya di Asia dengan nilai yang bisa mencapai lebih dari US$30 miliar.

Stack Infrastructure Inc., perusahaan pusat data yang dimiliki oleh Blue Owl Capital, saat ini sedang mengevaluasi berbagai opsi strategis, termasuk kemungkinan menjual sebagian atau seluruh operasinya di kawasan Asia.

Menurut sumber yang mengetahui hal tersebut, perusahaan yang berbasis di Denver ini telah berdiskusi dengan calon penasihat terkait potensi penjualan asetnya di Australia, Jepang, dan Malaysia.

Seperti dikutip Bloomberg, karena sifat pembicaraan yang masih privat, para sumber meminta identitasnya dirahasiakan.

Nilai transaksi tersebut diperkirakan bisa melampaui US$30 miliar. Sejumlah dana investasi infrastruktur dan pelaku industri lainnya disebut-sebut berpotensi tertarik.

Namun, pembahasan masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final.

Perwakilan Blue Owl menolak memberikan komentar, sementara pihak Stack belum menanggapi permintaan keterangan.

Perusahaan pusat data saat ini menjadi magnet bagi investor, terutama karena keterkaitannya dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Kawasan Asia Pasifik pun menjadi wilayah yang aktif dalam berbagai transaksi serupa. Misalnya, Digital Edge yang didukung Stonepeak Partners tengah menjajaki opsi penjualan, Bain Capital sedang meninjau Bridge Data Centres, dan Princeton Digital Group menunjuk Goldman Sachs untuk potensi transaksi bernilai miliaran dolar lainnya.

Sementara itu, DayOne Data Centers Ltd. juga mempertimbangkan penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat.

Berdasarkan situs resminya, Stack mengoperasikan pusat data di Amerika, Eropa, dan Asia. Blue Owl mengakuisisi perusahaan ini melalui pengambilalihan IPI Partners LLC tahun lalu.

Stack sendiri mulai memperluas bisnisnya ke Asia Pasifik pada 2021 dengan mendirikan kantor pusat regional di Singapura serta menargetkan pertumbuhan organik melalui kerja sama dengan pemilik lahan dan pengembang properti, di samping akuisisi.

Pada Februari lalu, Stack dikabarkan mencari pinjaman sekitar A$3 miliar (US$2,2 miliar) untuk mempercepat pengembangan di Australia.

Sementara pada Oktober, perusahaan ini mendapatkan fasilitas pembiayaan hijau sebesar ¥39,7 miliar (sekitar US$253 juta) guna memperluas kampus pusat datanya di Inzai, dekat Tokyo. (DK)