Tujuh siasat BI saat rupiah ‘undervalued’ lawan dolar AS

Rabu, 06 Mei 2026

image

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dan berpotensi menguat, seiring fundamental ekonomi domestik yang tetap solid.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang memadai.

“Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” ujarnya, saat memberi keterangan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Negara, pada Selasa (5/5).

Meski demikian, Perry mengaku nilai tukar rupiah menghadapi tekanan jangka pendek akibat faktor geopolitik global dan musiman, yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, permintaan valas juga meningkat seiring kebutuhan repatriasi dividen, pembayaran utang, dan musim haji.

“Memang dalam secara musiman April, Mei, Juni permintaan terhadap dolarnya tinggi ... tapi rupiah undervalued dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” imbuhnya.

Untuk merespons tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Perry menyampaikan bank sentral telah menyiapkan tujuh langkah strategis.

Pertama, BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing secara tunai, baik di dalam negeri maupun pasar offshore Non Delivery Forward (NDF). Intervensi ini juga melibatkan cadangan devisa negara.

Kedua, BI mendorong arus masuk modal melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup tekanan arus keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

Ketiga, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam kebijakan fiskal dan moneter, termasuk pembelian SBN di pasar sekunder.

“Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder secara year to date sebesar Rp123,1 triliun,” kata Perry.

Keempat, BI menjaga likuiditas perbankan tetap longgar agar mendukung stabilitas pasar keuangan.

Kelima, BI membatasi pembelian dolar AS di pasar domestik. Batas pembelian yang sebelumnya US$100.000 per orang per bulan, telah diturunkan menjadi US$50.000 dan akan kembali dipangkas menjadi US$25.000.

“Pembelian dolar sampai dengan atau di atas US$25.000 harus pakai underlying,” ujar Perry.

Keenam, BI memperkuat intervensi di pasar offshore untuk meredam tekanan eksternal terhadap rupiah.

“Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri, sehingga pasokannya lebih banyak dan akan memperkuat nilai tukar rupiah,” ungkap Perry.

Ketujuh, BI meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi, khususnya terkait transaksi valuta asing, melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pada pembukaan perdagangan Rabu (6/5), nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,24% ke level Rp17.383/US$.

Namun hingga pukul 11.00 WIB, penguatan rupiah mulai terbatas dan kembali melemah di atas Rp17.400/US$. (KR)