Harga minyak naik, inflasi Thailand dekati batas target bank sentral

Rabu, 06 Mei 2026

image

BANGKOK - Kenaikan harga minyak yang dipicu konflik Iran mendorong inflasi Thailand mendekati batas atas target bank sentral, sekaligus mengakhiri tren penurunan harga yang telah berlangsung selama setahun terakhir.

Indeks harga konsumen naik 2,89% pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari setahun, menurut data Kementerian Perdagangan yang dirilis Rabu.

Angka tersebut juga melampaui perkiraan median 2,2% dalam survei ekonom Bloomberg.

Seperti dikutip Bloomberg, pemulihan ini menjadi laju inflasi tercepat sejak Februari 2023, serta pertama kalinya sejak Februari tahun lalu harga kembali masuk ke dalam kisaran target Bank of Thailand sebesar 1%–3%.

Inflasi diperkirakan masih akan meningkat menjadi 3,06% bulan ini, lalu 3,27% pada Juni, sebelum mencapai puncak sekitar 4,1% pada Oktober, menurut pejabat dalam konferensi pers.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik satu basis poin menjadi 2,24%, sementara baht relatif stabil dengan mempertahankan penguatan 0,6% terhadap dolar AS.

Secara bulanan, indeks harga naik 2,75% pada April, meningkat tajam dari 0,6% pada Maret. Inflasi inti juga naik tipis menjadi 0,83% dari 0,57% pada bulan sebelumnya.

Lonjakan cepat inflasi utama ini menunjukkan kerentanan Thailand terhadap guncangan energi. Lebih dari separuh impor minyak negara tersebut berasal dari Timur Tengah, dengan sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz, sehingga inflasi sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik.

Kenaikan harga pada April dipicu oleh meningkatnya biaya bahan bakar, transportasi publik, tiket pesawat, sewa, produk pembersih, makanan siap saji, beras, serta sayuran segar, menurut pernyataan kementerian.

“Tekanan biaya di kalangan produsen semakin meningkat,” ujar kementerian. “Pelaku usaha besar mulai menunjukkan indikasi penyesuaian harga barang konsumsi guna mencerminkan kenaikan biaya bahan baku dan transportasi.”

Gubernur Bank of Thailand, Vitai Ratanakorn, bersama para pembuat kebijakan memberi sinyal bahwa kenaikan inflasi ini belum tentu memicu respons kebijakan dalam waktu dekat.

Mereka menekankan bahwa lonjakan harga saat ini lebih banyak dipicu faktor pasokan, sehingga pengetatan moneter dinilai kurang efektif.

Pekan lalu, bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya di level terendah dalam hampir empat tahun, dengan alasan inflasi diperkirakan akan mereda tahun depan.

Otoritas juga menyatakan akan “mengabaikan sementara” jika inflasi menembus batas target dalam jangka pendek. (DK)