Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6%, bagaimana tanggapan ekonom?
Rabu, 06 Mei 2026

JAKARTA - Dari sudut pandang ekonom, kinerja ekonomi Indonesia yang kuat di awal tahun dipandang belum sepenuhnya mencerminkan fundamental yang solid, melainkan lebih banyak ditopang faktor sementara.Krystal Tan dari Australia and New Zealand Banking Group Ltd menilai pertumbuhan 5,6% pada kuartal I cenderung “terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya”.Ia menyebut dorongan utama berasal dari efek basis rendah, percepatan belanja pemerintah di awal tahun, serta faktor musiman, yang kecil kemungkinan terulang di kuartal berikutnya.Seperti dikutip Bloomberg, sejumlah ekonom juga menyoroti ruang fiskal yang semakin terbatas. Kenaikan harga energi akibat konflik global memaksa pemerintah meningkatkan subsidi, yang berisiko menggeser belanja produktif lain.Hal ini dinilai dapat menurunkan kualitas pertumbuhan sekaligus menyulitkan pemerintah menjaga defisit tetap di bawah 3% PDB.Radhika Rao dari DBS Bank Ltd memperkirakan laju belanja pemerintah akan melambat dalam beberapa kuartal ke depan.DBS bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 5,1%, mencerminkan ekspektasi perlambatan setelah dorongan fiskal mereda.Pandangan serupa disampaikan ekonom CIMB Bank Bhd. Mereka menilai realokasi anggaran untuk subsidi, yang memiliki efek pengganda lebih kecil, berpotensi memangkas pertumbuhan hingga 0,2 poin persentase.Dari sisi eksternal, risiko juga meningkat. Fitch Solutions memperingatkan bahwa pelemahan ekspor, depresiasi rupiah, dan kenaikan harga minyak bisa mendorong Indonesia ke defisit perdagangan.Ini berpotensi mengikis kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan. Selain itu, tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian utama.Pelemahan mata uang, defisit transaksi berjalan yang melebar, serta potensi kenaikan suku bunga dinilai bisa membebani investasi dan konsumsi ke depan.Secara keseluruhan, ekonom melihat pertumbuhan saat ini sebagai kuat namun rapuh, ditopang stimulus jangka pendek, dengan risiko perlambatan ketika dukungan fiskal memudar dan tekanan eksternal meningkat.
Seperti diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I 2026, melampaui proyeksi konsensus ekonom yang memperkirakan di kisaran 5,3%.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut pertumbuhan tersebut ditopang aktivitas domestik. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku, dan Rp3.447 triliun atas dasar harga konstan.
“Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 secara tahunan dibanding kuartal I-2025 tumbuh 5,61%. Kinerja ini ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (5/5).
Pada perdagangan Rabu (6/4) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.387. Angka ini naik 0,21% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.424. (DK)