CEO Anthropic: Perusahaan software berisiko kolaps
Kamis, 07 Mei 2026

JAKARTA — CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan potensi disrupsi besar di industri perangkat lunak. Sejumlah perusahaan software-as-a-service (SaaS) disebut berisiko kolaps jika gagal beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Seperti dikutip dari Yahoo.Finance, pernyataan tersebut disampaikan dalam forum The Briefing: Financial Services bersama jurnalis Andrew Ross Sorkin dan CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon.
Amodei menilai keunggulan tradisional industri SaaS, yakni kompleksitas perangkat lunak, tidak lagi menjadi penghalang bagi kompetitor di era AI.
“Jika keunggulan Anda hanya karena perangkat lunak itu kompleks dan sulit dibuat, sementara Anda bisa membuatnya dan yang lain tidak, keunggulan itu akan hilang,” ujarnya.
Ia menegaskan, masa depan perusahaan SaaS kini sangat bergantung pada bagaimana mereka merespons perubahan teknologi ini. Menurutnya, sebagian perusahaan bisa kehilangan nilai pasar bahkan bangkrut jika tidak beradaptasi dengan cepat.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kelompok perusahaan SaaS saat ini. Situasinya sangat tidak pasti. Sangat mungkin ada perusahaan yang kehilangan nilai, bangkrut, atau hilang sepenuhnya, semuanya tergantung pada respons mereka,” kata Amodei.
Meski demikian, ia juga melihat peluang bagi perusahaan yang mampu beradaptasi. Sejumlah pemain lama diperkirakan justru bisa bangkit dan menjadi lebih kuat.
“Ada perusahaan yang akan menyadari bahwa ‘benteng’ mereka sudah tidak relevan, lalu berputar arah dan tampil lebih baik dari sebelumnya. Tapi ada juga yang tidak siap dan akan mengalami masa sulit,” tambahnya.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan SaaS mulai bergerak cepat mengintegrasikan AI untuk menjaga daya saing. Microsoft, misalnya, telah menyematkan fitur Copilot dalam layanan Microsoft 365, sementara Google menghadirkan Gemini di platform Workspace.
Namun tekanan pasar tetap terasa. Saham ServiceNow turun sekitar 39% sejak awal tahun, diikuti Snowflake yang melemah 35%, serta Thomson Reuters yang turun 28%. Bahkan saham Microsoft juga terkoreksi sekitar 15% di tengah kekhawatiran terhadap kebutuhan kapasitas komputasi AI. (DH)