Trump bekukan Project Freedom di Hormuz, ini pemicunya

Kamis, 07 Mei 2026

image

JAKARTA - Donald Trump menghentikan sementara “Project Freedom”, operasi Amerika Serikat untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz, di tengah upaya Washington merampungkan kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri perang di kawasan Timur Tengah.

Trump mengumumkan keputusan itu melalui media sosial dengan menyatakan operasi dihentikan “untuk waktu singkat” demi memberi ruang bagi negosiasi AS-Iran. Meski demikian, dia menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan.

“Atas permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran,” tulis Trump, seperti dikutip Theguardian.

Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.

Keputusan Trump muncul hanya sehari setelah “Project Freedom” diluncurkan untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang lumpuh akibat konflik. Operasi itu bertujuan mengawal kapal-kapal dagang yang tertahan di Teluk Persia setelah Iran memperketat kontrol di jalur energi paling vital dunia tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan operasi militer utama Washington terhadap Iran telah berakhir, namun proses menuju perdamaian masih berlangsung. “Operasinya sudah selesai. Epic Fury seperti yang presiden sampaikan kepada Kongres kita sudah selesai dengan tahap itu,” kata Rubio.

Rubio menegaskan perdamaian hanya dapat tercapai jika Iran menyetujui tuntutan AS terkait program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun penghentian sementara “Project Freedom” dinilai bertolak belakang dengan pernyataan pejabat tinggi pertahanan AS beberapa jam sebelumnya.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut militer AS telah berhasil mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan ratusan kapal komersial mulai mengantre untuk melintas.

“Kita tahu bahwa Iran malu dengan fakta ini. Mereka mengatakan mereka menguasai selat itu. Padahal tidak,” ujar Hegseth.

Rubio juga menegaskan AS berupaya membuka jalur pelayaran global sebagai kebaikan bagi dunia. "Karena hanya kitalah yang mampu melakukannya”.

Di tengah pernyataan tersebut, sebuah kapal kargo dilaporkan terkena proyektil tak dikenal saat melintas di kawasan selat.

Hingga kini, baru dua kapal dagang yang berhasil melintasi rute pengawalan AS.

Sementara ratusan kapal lain dengan sekitar 23.000 awak masih tertahan di Teluk Persia. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga energi global. Jalur itu sebelumnya menjadi lintasan utama ekspor minyak, gas, dan produk petrokimia dunia.

Harga bensin di AS bahkan menembus US$4,50 per galon untuk pertama kalinya sejak Juli 2022. Sementara harga minyak Brent bertahan di kisaran US$108 per barel setelah pengumuman Trump.

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengisyaratkan Teheran belum sepenuhnya merespons upaya AS membuka kembali jalur pelayaran tersebut.

“Kita tahu betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika; padahal kita bahkan belum memulai apa pun,” tulis Qalibaf di platform X.

Militer AS menyebut lebih dari 100 pesawat tempur kini berpatroli di atas Selat Hormuz. Washington juga masih mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sejak 13 April untuk menekan pendapatan minyak Teheran.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran global Hapag-Lloyd menyatakan kapal mereka masih belum dapat melintas di Selat Hormuz karena risiko keamanan tetap tinggi.

“Bagi perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi, mereka masih harus menunggu dan melihat bagaimana ini akan berjalan,” kata analis Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt.(DH)