Tekanan brand elektronik lokal kuat, Samsung keluar dari China
Kamis, 07 Mei 2026

JAKARTA - Raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung Electronics, menghentikan penjualan seluruh produk elektronik rumah tangga di China daratan di tengah anjloknya pangsa pasar dan tekanan persaingan dari merek lokal.
Seperti dikutip GlobalTimes, keputusan itu diumumkan Samsung pada Rabu melalui pernyataan resmi di situs perusahaan. Produk yang dihentikan penjualannya mencakup televisi, monitor, pendingin udara, kulkas, mesin cuci, pengering, penyedot debu, hingga perangkat audio dan proyektor. Namun penjualan ponsel tetap dilanjutkan.
Samsung menyebut langkah tersebut diambil setelah mempertimbangkan perubahan cepat kondisi pasar di China. Meski menghentikan penjualan, perusahaan memastikan layanan purnajual seperti instalasi, pengembalian barang, dan perawatan tetap berjalan sesuai aturan perlindungan konsumen di China.
Data industri yang dikutip media China DoNews menunjukkan pangsa pasar offline Samsung di China per 5 April 2026 hanya mencapai 3,62% untuk televisi, 0,41% untuk kulkas, dan 0,38% untuk mesin cuci.
Pendapatan penjualan televisi Samsung di China bahkan disebut tinggal sekitar 5% dari level puncaknya, sementara total pendapatan bisnis elektronik rumah tangga merosot hingga di bawah 1% dibanding posisi historis tertinggi.
Tekanan terhadap Samsung tidak hanya datang dari China. Kantor berita Yonhap melaporkan kenaikan biaya bahan baku dan komponen di tengah ketidakpastian global terus menggerus profitabilitas bisnis elektronik rumah tangga perusahaan.
Pada 2025, divisi Visual Display dan Digital Appliances Samsung membukukan kerugian gabungan sebesar 200 miliar won atau sekitar US$138 juta. Dalam periode yang sama, laba bersih anak usaha penjualan Samsung di China anjlok 44% menjadi 168,1 miliar won.
Di sisi lain, merek-merek lokal China terus memperkuat dominasi pasar, didukung program tukar tambah yang didorong pemerintah. Data Runto Technology menunjukkan pengiriman televisi di China sepanjang 2025 mencapai 32,89 juta unit. Delapan merek domestik seperti Hisense, TCL, Xiaomi, Skyworth, Changhong, Haier, Konka, dan Huawei menguasai 94,1% pasar.
Sebaliknya, total pengiriman tahunan merek asing seperti Samsung, Sony, Philips, dan Sharp dilaporkan turun di bawah 1 juta unit dan berada di posisi terbawah pasar. Pengamat industri Liu Dingding mengatakan anjloknya pangsa pasar membuat biaya operasional merek asing di China semakin sulit dibenarkan secara bisnis.
“Merek yang gagal beradaptasi dengan perubahan pasar atau meningkatkan produk tepat waktu kemungkinan besar akan tersingkir secara alami oleh kekuatan pasar,” kata Liu. Meski mundur dari bisnis elektronik rumah tangga, Samsung belum sepenuhnya meninggalkan China. Perusahaan masih mempertahankan bisnis ponsel, semikonduktor, dan peralatan medis.
Samsung juga disebut akan mengalihkan fokus investasinya di China ke sektor bernilai tambah tinggi seperti kecerdasan buatan (AI), manufaktur canggih, dan pengembangan teknologi hijau. Peneliti Institute of Northeast Asian Studies, Da Zhigang, menilai langkah Samsung sejalan dengan perubahan struktur industri manufaktur China yang kini semakin matang dan kompetitif.
Sementara itu, Liu menyebut kemunduran merek elektronik Korea Selatan di China mencerminkan kebangkitan industri manufaktur dan inovasi domestik Negeri Tirai Bambu. “Merek yang gagal beradaptasi dengan perubahan pasar atau meningkatkan produk tepat waktu kemungkinan besar akan tersingkir secara alami oleh kekuatan pasar,” ujarnya.(DH)