Konflik berkepanjangan dorong bank sentral dunia jual 30 ton emas
Kamis, 07 Mei 2026

JAKARTA - Bank-bank sentral dunia berbalik menjadi penjual emas pada Maret 2026 di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak perang Iran yang mengguncang pasar keuangan.
Data terbaru World Gold Council (WGC) menunjukkan bank sentral secara neto melepas 30 ton emas sepanjang Maret, menandai perubahan tajam setelah selama beberapa tahun terakhir menjadi motor utama reli harga emas dunia, seperti dikutip kitco.
“Bank sentral menjual emas bersih sebanyak 30 ton pada bulan Maret, dengan penjualan dari Turki (60 ton) dan Rusia (16 ton) mengimbangi pembelian di tempat lain,” kata Marissa Salim, Pemimpin Riset Senior APAC WGC,
Penjualan terbesar berasal dari Turki yang melepas 60 ton emas, disusul Rusia sebesar 16 ton. Di saat bersamaan, State Oil Fund of Azerbaijan (SOFAZ) juga tercatat menjual 22 ton emas sepanjang kuartal I-2026.
Meski demikian, sejumlah negara tetap agresif menambah cadangan emasnya. Bank Sentral Polandia menjadi pembeli terbesar pada Maret dengan akumulasi 11 ton emas. Disusul Uzbekistan 9 ton dan Kazakhstan 6 ton.
“Bank Nasional Polandia (11t) adalah pembeli terbesar pada bulan Maret, diikuti oleh Bank Sentral Uzbekistan (9t) dan Bank Nasional Kazakhstan (6t),” ujar Salim.
Bank Sentral China juga melanjutkan tren pembelian emas untuk bulan ke-17 berturut-turut dengan tambahan 5 ton pada Maret. Secara kuartalan, Polandia memimpin pembelian emas global dengan total 31 ton, diikuti Uzbekistan 25 ton, Kazakhstan 13 ton, dan China 7 ton.
Indonesia ikut tercatat dalam kelompok negara pembeli emas bersama Republik Ceko, Malaysia, Guatemala, Kamboja, Serbia, dan Kyrgyzstan. Di sisi lain, tekanan terbesar terjadi di Turki. WGC menyebut bank sentral negara itu menjadi penjual emas terbesar pada kuartal I-2026 dengan total pelepasan mencapai 79 ton.
“Penjual emas terbesar di kuartal pertama adalah Turki, di mana kepemilikan sektor resmi turun 79 ton berdasarkan data yang dilaporkan,” kata Salim.
Penjualan besar-besaran tersebut dilakukan melalui skema swap emas demi memperoleh likuiditas dolar AS untuk menopang ekonomi domestik dan menahan tekanan terhadap lira Turki.
Sebelum perang Iran pecah, bank sentral Turki memiliki hampir 830 ton emas. Namun cadangan itu anjlok 127 ton menjadi 693 ton pada akhir Maret. Pemerintah Turki menggunakan swap emas dan penjualan bullion untuk memperoleh dolar AS di tengah meningkatnya arus keluar modal dan lonjakan permintaan valuta asing.
Setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tercapai, kondisi pasar mulai stabil sehingga bank sentral Turki kembali membangun cadangan emasnya. Data terbaru menunjukkan cadangan emas Turki naik 36,4 ton dalam dua pekan terakhir hingga mencapai sekitar 730 ton per 17 April.
Perang di Timur Tengah disebut menjadi faktor utama yang memperburuk tekanan ekonomi global melalui gangguan rantai pasok energi dan meningkatnya tekanan inflasi.
WGC menilai permintaan emas bank sentral tetap memainkan peran penting di pasar logam mulia, namun volatilitas kini meningkat karena sejumlah negara mulai memonetisasi cadangan emas mereka untuk menopang ekonomi domestik di tengah krisis geopolitik.(DH)