Presdir ARTO Arief Harris bicara soal free float dan lonjakan laba 42%

Kamis, 07 Mei 2026

image

JAKARTA - Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk (ARTO), Arief Harris Tandjung, menjelaskan peseroan tidak mengalami masalah dengan perubahan aturan terkait free float yang direncanakan naik dari 15% menjadi 25%.

"Kami tidak ada masalah dengan free float yang baru, karena saat ini saham ARTO yang free float sudah 23%," kata Arief kepada wartawan, di Kantor Bank Jago, Rabu (6/5/26).

Posisi kepemilikan saham ARTO sekarang, lanjut Arif, sudah mencerminkan sebagai perusahaan publik.

Data kepemilikan saham ARTO 1% sesuai catatan BEI adalah:

  • Wealth Track Technology Limited       :  11,68%                 
  • Government of Singapore                   :   8,28%
  • Ephesus United Corp                          :   3,81%
  • Jetway Wealth Management Limited   :  3,46%
  • Arto Hardy                                           :   1,26%
  • Metamorfosis Ekosistem Indonesia    :  29,79%
  • PT Dompet Karya Anak Bangsa         :  21,40%

Pada kesemptan tersebut Arif menjelaskan bahwa perkembangan Bank Jago sejak lima tahun yang lalu menunjukkan perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun.

"Sampai tahapan ini kami sudah makin yakin bahwa kinerja ARTO sebagai bank digital sudah menunjukkan 'hak hidup'  di kancah perbankan nasional. Pada awal awal tentu banyak kalangan yang masih ragu, bisnis bank digital itu apa. Sekarang rasanya pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik."

Hal tersebut, lanjutnya, tampak dari 

  • Kredit per Maret 2026 yang tumbuh 24% year on year (yoy) menjadi Rp25,2 triliun 
  • Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 23% (yoy) menjadi Rp26,4 triliun 
  • Total Nasabah-Digital Banking dan Kredit 19,4 juta
  • Net profit after tax (NPAT) melonjak 42% jadi Rp86 miliar

"Kinerja kuartal  pertama tahun ini mengejutkan kami mengingat kondisi perekonomian Indonesia dan global yang masih tidak menentu," kata Arief.

ARTO, lanjutnya berkembang di tengah situasi yang tidak bagus, misalnya pandemi Covid 9 (2020-2023) dan perang tarif global dan perang Iran saat ini.

"Konidisi ini membuat kami harus selalu siapa menghadapi 'new normal' setiap saat. Dan kami yakin pasti selalu ada peluang peluang asal kita terus aktif mencari."

ARTO, kata dia, memiliki tiga arah utama dalam mengembangkan bank.

  • Pertama, menjaga likuiditas bank tetap kuat. Liikuiditas merupakan aspek paling vital dalam perbankan. “Kami sangat berhati-hati dalam menjaga likuiditas. Karena likuiditas itu ibarat jantung. Kalau sampai terkenan searagan jantung tubuh bisa langsung kolaps.”
  • Kedua, Bank Jago berkomitmen menjaga kualitas portofolio kredit. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dipertahankan pada level rendah agar kualitas aset tetap sehat. "NPL  bagi tubuh manusia seperti penyakit kanker yang bisa berkembang perlahan dan merusak jika tidak ditangani dengan tepat, namun juga bisa diatasi dengan penanganan yang baik.
  • Ketiga, adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas. "Jadi kami tidak akan mengorbankan profitabilitas demi mengejar pertumbuhan." 

Tiga arah tersebut, menjadi panduan ARTO agar kinerja ke depan semakin baik. "Kami tetap berhati-hati, tetapi juga terus mendorong pertumbuhan,” tambahnya.

Terkait kondisi ekonomi Indonesia saat ini, Arief menyebut bahwa hal yang paling perlu diwaspadai adalah pergerakan nilai tukar rupiah, sementara indikator ekonomi lainnya masih relatif stabil.

Secara rutin ARTO melakukan semacam stress test dengan memantau 18 indikator yang diperiksa secara harian, mingguan, hingga bulanan.

“Prinsipnya, kami harus tetap prudent, optimistis, dan selalu siap mengantisipasi. Kami memasang radar dan antena tinggi agar tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan,” jelasnya.

Arief juga membagi perjalanan lima tahun Bank Jago ke dalam 3 fase sejak transformasi dari Bank Artos pada 2020.

Fase Pertama (2020–2021).  Fokus pada pengumpulan modal sekitar US$ 600 juta untuk pengembangan bisnis dan infrastruktur, serta peluncuran aplikasi Jago pada April 2021. Pada Juli 2021, Bank Jago mulai menjalin kolaborasi dengan Bibit/Stockbit dan GoTo, yang menjadi motor penting dalam pertumbuhan melalui integrasi ekosistem digital. Pada kuartal IV-2021, ARTO sudah mulai mencatatkan laba bersih.

Fase Kedua (2022–2024). Fokus pada percepatan pertumbuhan melalui ekosistem, dengan pencapaian sekitar 10 juta nasabah, ekspansi kredit melalui mitra, peluncuran inovasi seperti GoBay Tabungan, serta penguatan tata kelola perusahaan.

Fase Ketiga, (mulai 2025- sekarang). Fokus pada penguatan penawaran langsung, optimalisasi kemitraan, serta inovasi berkelanjutan.

Ke depan, jelas Arief, Bank Jago akan mengembangkan layanan direct lending, wealth management, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses, produk, dan layanan nasabah. (DK/MT)