Pemulihan Selat Hormuz diperkirakan butuh waktu lama

Kamis, 07 Mei 2026

image

NEW YORK - Pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan tidak akan berlangsung cepat meski pasar keuangan sempat melonjak harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.Seperti dikutip NBC NEWS, pelaku industri menilai lalu lintas kapal di jalur strategis itu masih praktis lumpuh dan baru bisa pulih jika ada stabilitas jangka panjang.Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington setelah pembicaraan intensif dalam 24 jam terakhir.Ia bahkan membuka peluang tercapainya perjanjian damai yang dapat mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.Namun situasi di lapangan masih penuh ketegangan.Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran, M/T Hasna, setelah kapal tersebut disebut melanggar blokade AS dan mengabaikan peringatan berulang dari militer Amerika.Ratusan kapal beserta awaknya masih tertahan di sekitar selat karena operator kapal enggan mengambil risiko melintas di tengah konfrontasi laut antara Teheran dan Washington.

Kondisi ini membuat distribusi energi global terganggu dan harga minyak melonjak tajam.

Sebelumnya Trump sempat meluncurkan operasi “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz menggunakan militer AS.

Namun operasi itu dihentikan kurang dari 48 jam setelah dimulai, menyusul perkembangan negosiasi damai dengan Iran.

Meski muncul laporan bahwa kedua negara mendekati kesepakatan, pesan dari Iran masih saling bertolak belakang.

Sebagian pejabat Iran menyebut proposal AS hanya berisi “keinginan Amerika”, sementara pihak lain mengatakan usulan tersebut masih dipelajari Teheran.

Pelaku industri pelayaran menilai situasi yang berubah mendadak membuat perusahaan sulit melakukan penilaian risiko.

Chief Safety and Security Officer BIMCO Jakob Larsen mengatakan penghentian mendadak “Project Freedom” menjadi tantangan besar bagi pemilik kapal yang mencoba menentukan keamanan jalur pelayaran di Teluk Persia.

CEO Anglo-Eastern Univan Group Bjorn Hojgaard menambahkan keputusan operator kapal lebih ditentukan kondisi nyata di laut dibanding sekadar pernyataan politik.Karena itu, banyak perusahaan pelayaran masih memilih bersikap hati-hati sampai situasi benar-benar stabil.

Krisis ini diperparah oleh pengalaman bulan lalu ketika Iran sempat menyatakan Selat Hormuz terbuka setelah gencatan senjata, tetapi kembali menutupnya sehari kemudian dengan alasan blokade AS terhadap pelabuhannya.

Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan volume pelayaran di selat turun dari 44 menjadi 36 lintasan dalam sepekan terakhir.

Ribuan pelaut masih terjebak di kawasan tersebut, sementara moral awak kapal disebut menurun drastis akibat ketidakpastian berkepanjangan.

Raksasa pelayaran global Hapag-Lloyd juga menegaskan Selat Hormuz masih ditutup untuk kapal-kapal mereka.

Perusahaan menyebut “satu-satunya kepastian saat ini adalah ketidakpastian.”

Pelaku industri menilai pembukaan kembali jalur pelayaran membutuhkan jaminan keamanan konkret, termasuk kepastian bahwa perairan bebas ranjau, adanya perlindungan militer, serta komitmen Iran untuk tidak menyerang kapal sipil.

Pakar keamanan maritim Christian Bueger mengatakan pemulihan lalu lintas kapal kemungkinan berlangsung bertahap dan bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hingga kembali ke tingkat sebelum perang.

Menurutnya, perusahaan pelayaran akan tetap berhati-hati karena keputusan akhir bergantung pada penilaian risiko dan kesiapan awak kapal menghadapi ancaman di kawasan tersebut. (DK)