Malaysia tahan suku bunga 2,75%, kelima kalinya berturut-turut

Kamis, 07 Mei 2026

image

KUALA LUMPUR - Malaysia mempertahankan suku bunga acuan tetap tidak berubah untuk pertemuan kelima berturut-turut, meskipun risiko terhadap pertumbuhan meningkat akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Bank Negara Malaysia (BNM) mempertahankan overnight policy rate di level 2,75% pada hari Kamis, sesuai ekspektasi seluruh 25 ekonom dalam survei Bloomberg.

Bank sentral menyebut tingkat suku bunga tersebut “tepat dan konsisten dengan prospek stabilitas harga yang berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.”

Seperti dikutip Bloomberg, BNM hanya melakukan satu kali perubahan biaya pinjaman dalam dua tahun terakhir, yakni penurunan sebesar 25 basis poin pada Juli 2025.

“Ketidakpastian terkait durasi dan tingkat keparahan konflik di Timur Tengah akan memengaruhi prospek pertumbuhan dan inflasi domestik,” kata bank sentral dalam pernyataannya.

“Namun demikian, fundamental ekonomi Malaysia yang kuat akan terus menopang ketahanan ekonomi.”

Pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5,3% pada kuartal pertama 2026, karena dampak perang dengan Iran mulai menekan industri-industri utama.

Harga minyak yang tinggi juga meningkatkan pengeluaran subsidi bahan bakar pemerintah hingga sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan tingkat sebelum perang.

Meski demikian, Malaysia dinilai termasuk negara yang paling siap di kawasan untuk menghadapi ketidakpastian akibat guncangan energi.

Tekanan harga juga relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain yang merupakan pengimpor energi neto, dengan Filipina sebelumnya pada hari Kamis melaporkan perlambatan pertumbuhan yang mengejutkan.

Nilai tukar ringgit naik 0,3% terhadap dolar AS ke level 3,91, mempertahankan penguatannya setelah keputusan tersebut.

Penguatan mata uang juga membantu menahan inflasi impor. Ringgit melemah kurang dari 1% terhadap dolar sejak perang di Iran dimulai, dan naik lebih dari 3% sepanjang tahun ini, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada 2026. (DK)