Bertemu Abbas Araghchi, apa kata Menlu China soal damai dengan AS?
Jumat, 08 Mei 2026

TIONGKOK - Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi ke China menandai peluang baru bagi perdamaian dan membuka ruang bagi negosiasi diplomatik di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah.
Mengutip dari CGTN, Rabu (7/05/26) lawatan pada Rabu itu menjadi kunjungan pertamanya ke Beijing sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi perhatian dunia.
Dalam wawancara dengan IRIB usai bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Araghchi mengatakan Beijing menilai Iran saat ini berbeda dibanding sebelum perang, dengan posisi internasional yang lebih kuat serta kemampuan yang telah terbukti.
Araghchi dalam pertemuan menegaskan krisis politik tidak dapat diselesaikan melalui jalur militer. Iran, katanya, tetap berkomitmen menjaga kedaulatan dan martabat nasional sambil mencari solusi menyeluruh dan berkelanjutan melalui dialog.
Ia juga menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz dapat segera dibahas dan mengapresiasi peran konstruktif China dalam mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, Wang Yi menegaskan China terus mendorong perdamaian dan dialog sejak konflik pecah.
Beijing juga meminta seluruh pihak merespons seruan internasional untuk memulihkan keamanan dan kelancaran navigasi di Selat Hormuz secepat mungkin.
Direktur Center for Strategic Studies di Northwest University China, Wang Jin, menilai pernyataan Araghchi menunjukkan keinginan Iran untuk meredakan ketegangan dan memulihkan lalu lintas pelayaran di selat tersebut.
Menurut dia, waktu kunjungan ini penting untuk membantu komunitas internasional memahami niat Iran dan peluang terciptanya perdamaian jangka panjang di kawasan.
Pakar Timur Tengah dari Fudan University, Zou Zhiqiang, mengatakan sejak gencatan senjata sementara pada 8 April, baik Iran maupun AS belum menunjukkan keinginan kembali ke konflik militer berskala besar meski masih memiliki perbedaan signifikan dalam sejumlah isu utama.
Zou menambahkan pembahasan soal Selat Hormuz memang berfokus pada keamanan maritim, namun perdamaian jangka panjang juga membutuhkan solusi yang dapat diterima bersama terkait isu nuklir Iran.
Dalam pertemuan itu, Wang Yi kembali menegaskan apresiasi China atas komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sambil tetap menghormati hak Teheran memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai.
Menurut Zou, posisi China mencerminkan peran objektif dan seimbang Beijing sebagai kekuatan besar dunia sekaligus membantu mengembalikan isu nuklir Iran ke jalur dialog dan negosiasi.
Sementara Wang Jin menilai pesan China juga bertujuan mendorong Iran tetap berpegang pada penggunaan energi nuklir secara damai di tengah munculnya suara-suara domestik yang mendukung pengembangan senjata nuklir pascakonflik.
Kedua pihak juga menyoroti pentingnya kerangka keamanan kawasan yang menyeimbangkan pembangunan dan stabilitas. Zou mengatakan pola lama keamanan Timur Tengah yang bertumpu pada intervensi militer asing dan rivalitas blok sudah tidak berkelanjutan.
Karena itu, kerangka perdamaian regional yang dipimpin negara-negara kawasan dengan kepentingan bersama dinilai penting untuk mengatasi akar ketidakstabilan dan menciptakan perdamaian jangka panjang.
Sebelumnya pada April, China mengajukan proposal empat poin untuk menjaga stabilitas Timur Tengah, mencakup hidup berdampingan secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan negara, kepatuhan pada hukum internasional, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.
Upaya diplomasi Beijing juga mencakup sekitar 30 percakapan telepon antara Wang Yi dan pejabat senior dari Iran, Rusia, Israel, hingga negara-negara Teluk.
Pekan lalu, Wang juga berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk membahas situasi Timur Tengah. Menurut Zou, diplomasi aktif China kini menjadi kekuatan konstruktif penting dalam meredakan ketegangan kawasan. (DK)