CEO Lanxess Matthias Zachert: Harga minyak akan berkisar US$110
Jumat, 08 Mei 2026

JAKARTA — Lanxess memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan dan memperingatkan bahwa kenaikan biaya energi masih akan membebani industri kimia global. Kondisi tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasar bahan bakar dan bahan baku industri.
CEO Matthias Zachert, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (7/5/26), mengatakan perusahaan memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran US$100 hingga US$110 per barel dalam beberapa bulan mendatang. Menurut dia, Lanxess akan berupaya meneruskan kenaikan biaya produksi melalui penyesuaian harga produk.
Ia menambahkan tekanan persaingan dari produsen China di pasar Eropa mulai mereda.
Hal itu terjadi karena lonjakan biaya energi dinilai lebih membebani industri di Asia dibandingkan Eropa.
“Situasi ini bisa berubah jika ada kecenderungan menuju perdamaian yang lebih kuat, atau bisa memburuk lagi jika eskalasi militer kembali terjadi. Namun demikian, target kami tetap jelas, yaitu meneruskan tekanan biaya tersebut melalui kenaikan harga, meskipun harga minyak tinggi,” ujar Zachert.
Selama setahun terakhir, industri kimia Eropa menghadapi tekanan harga yang besar akibat meningkatnya ekspor produsen China ke kawasan tersebut.
Ketegangan perdagangan global membuat pasar Eropa dinilai lebih menarik dibandingkan pasar Amerika Serikat.
Namun, Zachert mengatakan dinamika itu kini mulai bergeser setelah konflik di Timur Tengah mengubah struktur biaya energi dan tingkat daya saing antarwilayah.
Lanxess Perusahaan Apa?
Lanxess merupakan perusahaan kimia khusus asal Jerman yang berfokus pada produksi bahan kimia bernilai tambah tinggi untuk sektor otomotif, konstruksi, elektronik, pertanian, hingga perlindungan konsumen.
Perusahaan yang berbasis di Cologne itu memiliki sekitar 11.700 karyawan yang tersebar di 32 negara dengan penjualan tahunan mencapai sekitar 5,7 miliar euro pada 2025.
Produk Lanxess dipasarkan ke berbagai kawasan global, termasuk Eropa, Amerika Utara, Asia Pasifik, Amerika Latin, hingga Timur Tengah dan Afrika.
Perusahaan ini memasok bahan kimia khusus untuk industri ban, plastik teknik, pelumas, aditif, pengolahan air, hingga perlindungan tanaman, dengan pelanggan utama berasal dari sektor manufaktur dan industri otomotif dunia.
Sebagai produsen bahan kimia khusus, bisnis Lanxess juga memiliki ketergantungan tinggi terhadap minyak dan turunannya karena minyak bumi menjadi salah satu bahan baku utama dalam proses produksi kimia.
Selain digunakan sebagai sumber energi, berbagai produk petrokimia berbasis minyak dipakai untuk menghasilkan aditif, plastik teknik, bahan karet, hingga bahan kimia industri lainnya.
Karena itu, kenaikan harga minyak secara langsung dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin perusahaan, terutama ketika pasar global masih menghadapi permintaan yang belum sepenuhnya pulih. (YS/MT)