Ketegangan AS-Iran tekan bursa Asia dan dongkrak harga minyak

Jumat, 08 Mei 2026

image

JAKARTA - Saham-saham Asia melemah dari level rekor tertinggi, sementara harga minyak mentah naik setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan menguji ketahanan reli pasar saham belakangan ini.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 1,1% setelah bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah, mengutip dari Bloomberg.

Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa kenaikan biaya energi dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, indeks ini masih berada di jalur penguatan mingguan kelima berturut-turut, yang menjadi tren terpanjang sejak Januari.

Harga minyak Brent bangkit setelah tiga hari mengalami penurunan dan melonjak lebih dari 1% hingga kembali berada di atas US$101 per barel.

Kenaikan ini dipicu kekhawatiran bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak dan gas dunia.

Namun secara mingguan, harga minyak masih turun lebih dari 6%.

Di sisi lain, pasar menunjukkan ketahanan. Kontrak berjangka indeks saham AS berhasil menghapus pelemahan awal dan berbalik naik 0,2%.

Sebelumnya, militer AS merespons serangan Iran terhadap kapal perusak angkatan laut yang melintas di Selat Hormuz pada Kamis.

Presiden Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang “lebih keras” jika tidak segera menyepakati kesepakatan baru.

Dalam wawancara telepon dengan ABC News, Trump menyebut serangan terbaru hanya sebagai “love tap” dan menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.

Walaupun saham Asia terkoreksi pada perdagangan Jumat, kawasan ini tetap mencatat salah satu performa mingguan terbaik tahun ini.

Investor masih menaruh perhatian pada upaya deeskalasi Amerika Serikat dan berharap meredanya ketegangan dapat menjaga harga energi tetap terkendali sekaligus menopang sentimen risiko global.

Analis senior Vantage Global Prime di Sydney, Hebe Chen, mengatakan pasar saham tampak mengabaikan risiko perang sementara harga minyak masih mempertahankan premi risiko konflik.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pelaku pasar mulai percaya bahwa skenario terburuk kemungkinan tidak akan terjadi.

Di pasar lain, dolar AS menguat untuk hari kedua setelah sebelumnya turun ke level sebelum perang karena optimisme konflik AS-Israel dengan Iran mendekati akhir.

Obligasi juga masih tertekan, dengan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di level 4,39% akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu harga minyak tinggi. Harga emas ikut naik mendekati US$4.700 per ons.

Untuk meredakan krisis, Trump sebelumnya meluncurkan inisiatif “Project Freedom” guna membantu kapal-kapal melintasi Selat Hormuz, sebelum akhirnya menunda program tersebut. (DK)