Jurus stabilisasi rupiah dinilai tak mempan, bos BI buka suara
Jumat, 08 Mei 2026

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan 7 langkah stabilitasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bukan sekadar agenda rutin bank sentral.
Hal itu disampaikan oleh Perrry, dalam pemaparan hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), menanggapi pandangan ekonom yang menilai langkah tersebut hanya agenda rutin BI.
“Itu bukan business as usual. Dari tujuh langkah, itu adalah langkah-langkah yang all-out,” kata Perry, yang pada April lalu memutuskan suku bunga acuan kredit tetap di level 4,75% demi menstabilkan rupiah.
Dari pendanaan, Perry mengaku bank sentral juga memiliki dana yang mencukupi untuk menjalankan sejumlah langkah itu, termasuk intervensi di pasar valuta asing Non-Deliverable Forward (NDF) domestik maupun offshore.
“US$148,2 miliar itu lebih dari cukup,” ungkap Perry menunjukkan posisi cadangan devisa Indonesia, yang sebagian dipakai untuk operasi intervensi rupiah.
Perry menambahkan cadangan devisa itu biasanya memang dihimpun saat Indonesia mendapatkan inflow besar. “Kita kumpulkan pada saat panen inflow besar. Makanya kita gunakan pada saat paceklik, pada saat outflow jumlahnya besar,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perry mengungkapkan alasan mengapa rupiah tetap melemah terhadap dolar AS, meskipun upaya intervensi telah berjalan.
Pertama, nilai tukar mata uang negara lain memang tengah menghadapi tekanan terhadap dolar AS, menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.
Kedua, kata Perry, faktor musiman memang menyebabkan permintaan dolar AS tinggi. Beberapa di antaranya termasuk faktor permintaan dolar dari aktivitas ibadah umrah dan haji, serta repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
“Bank Indonesia terus all-out jaga rupiah, berkoordinasi dengan pemerintah dan terus mendapat dukungan penuh dari presiden,” imbuh Perry.
Dalam laporan IDNFinancials.com sebelumnya, Ekonom Harvard Kenneth Rogoff, menilai dominasi dolar saat ini kemungkinan sudah mencapai puncaknya.
Namun transisi menuju sistem multipolar yang menyusul dedolarisasi, belum diikuti oleh instrumen keuangan baru di negara-negara berkembang.
Menurut data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah 0,31% dan mencapai Rp17.387 hingga pukul 11.20 WIB, Jumat (8/5). Sementara sejak awal tahun, rupiah telah melemah 4,24%. (KR)