MTEL serap dua anak usaha lewat merger, tambah 4 KBLI termasuk IoT

Jumat, 08 Mei 2026

image

JAKARTA – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), anak usaha Telkom yang dikenal dengan nama Mitratel, terus mengintegrasi layanan infrastruktur digitalnya, kini melalui penyerapan dua anak usaha lewat skema merger.

Berdasarkan keterbukaan informasi, Jumat (8/5), MTEL akan menjadi entitas surviving dari peleburan dua anak usahanya, PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT).

Baik PST maupun UMT dimiliki 100% secara langsung oleh MTEL. Dengan demikian, struktur modal Perseroan sendiri tidak akan berubah.

“Penambahan KBLI ini bukan merupakan ekspansi ke bidang usaha yang sepenuhnya baru, melainkan merupakan penyesuaian administratif, legal, dan operasional,” ujar manajemen dalam keterangan resmi.

Namun, melalui merger ini, MTEL akan menerima penambahan kegiatan usaha dari PST dan UMT, yaitu:

  1. Aktivitas Jasa Akses Internet (KBLI 61104)
  2. Aktivitas Konsultasi dan Perancangan Internet of Things (IoT) (KBLI 62204)
  3. Aktivitas Penyediaan Tenaga Kerja Sementara dan Sumber Daya Manusia Lainnya (KBLI 78200), dan
  4. Aktivitas Telekomunikasi Lainnya YTDL (KBLI 61909)

Merger ini juga dinilai dapat memperlancar agenda MTEL untuk mengintegrasikan infrastruktur tower, fiber, managed services, dan IoT secara end-to-end.

Hal ini sejalan dengan tujuan Perseroan untuk mendiversifikasi produknya untuk “melampaui infrastruktur menara konvensional.”

“Mencakup layanan infrastruktur jaringan fiber optik, small cell, distributed antenna system (DAS), serta infrastruktur pendukung ekosistem 5G, guna mengakomodasi kebutuhan operator telekomunikasi yang terus berkembang,” jelas manajemen.

Sebagai catatan, pada tengah April lalu, MTEL juga telah mengungkapkan rencana untuk menjajaki bisnis Power-as-a-Service (PaaS) melalui layanan end-to-end power management yang dipasarkan dengan skema langganan bulanan

Hingga akhir 2025, tiga pelanggan terbesar MTEL adalah PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), yang menyumbang 55% dari total pendapatan; PT Indosat Tbk (ISAT) yang menyumbang 20% dari total pendapatan; serta PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), 14% dari total pendapatan.

“Di luar tiga pelanggan besar tersebut, MTEL memiliki perjanjian payung dengan lebih dari 15 operator dan pihak ketiga serta badan-badan pemerintah,” ungkap manajemen.

Selain itu, MTEL juga membukukan 7,04% pendapatan dari segmen jasa konstruksi teknis, termasuk Fiber Optic Solution, Technical Service Assistance, Managed Service, Mechanical Electrical Solution, dan pengurusan IMB.

Sebagai catatan, total aset MTEL per akhir 2025 tercatat Rp58,35 triliun, dengan ekuitas Rp33,35 triliun. Sementara itu total aset PST dan UMT masing-masing Rp1,70 triliun dan Rp425,84 miliar.

Berdasarkan keterangan resmi Perseroan, aksi peleburan anak usaha ini akan diresmikan seiring dengan Rapat Umum Pemegang Saham MTEL, PST, dan UMT, pada 30 Juni 2026 mendatang. (ZH)