Tahan tekanan rupiah, cadangan devisa turun jadi US$146,2 miliar

Jumat, 08 Mei 2026

image

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 turun 1,35% menjadi US$146,2 miliar, dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang sebesar US$148,2 miliar.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Jumat (8/5). Menurut Denny, langkah stabilisasi tersebut ditempuh Bank Indonesia untuk meredam tekanan di pasar keuangan global yang masih bergejolak.

Meski menurun, posisi cadangan devisa Indonesia dinilai tetap kuat. Cadangan devisa pada akhir April 2026 setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

BI menilai level cadangan devisa saat ini mampu menjaga ketahanan sektor eksternal sekaligus menopang stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan eksternal Indonesia tetap solid, didukung cadangan devisa yang memadai dan aliran masuk modal asing yang terjaga. Optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik serta imbal hasil investasi yang kompetitif juga dinilai masih menopang stabilitas eksternal.

"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Denny.(DH)