Dampak perang AS-Iran, Toyota perkirakan merugi hampir US$4,3 miliar
Jumat, 08 Mei 2026

NEW YORK - Toyota memperkirakan bahwa dampak lanjutan dari perang Iran akan menimbulkan biaya sekitar US$4,3 miliar pada tahun fiskal ini, kata produsen mobil terbesar di dunia itu pada hari Jumat (8/5).
Ini menjadi salah satu peringatan terbesar sejauh ini mengenai dampak krisis tersebut terhadap perusahaan global, mengutip dari Reuters.
Toyota melaporkan penurunan laba kuartalan hampir 50% dan menyatakan bahwa laba tahun penuh diperkirakan akan turun sekitar seperlima pada tahun fiskal yang baru dimulai.
Kenaikan biaya dan gangguan rantai pasok akibat perang lebih besar dampaknya dibandingkan peningkatan permintaan kendaraan hybrid.
Perusahaan memperkirakan penjualan mobil hybrid akan melampaui 5 juta unit untuk pertama kalinya tahun ini.
Hasil tersebut menunjukkan dampak krisis Timur Tengah yang tidak seimbang: harga energi yang lebih tinggi mendorong konsumen beralih ke kendaraan hemat bahan bakar, namun belum cukup untuk mengimbangi tekanan biaya yang meningkat.
Toyota mencatat laba operasional sebesar 569,4 miliar yen (US$3,6 miliar) untuk periode tiga bulan hingga 31 Maret, turun dari 1,1 triliun yen pada tahun sebelumnya.
Untuk tahun fiskal berjalan, perusahaan memperkirakan laba operasional sebesar 3 triliun yen.
Proyeksi tersebut jauh di bawah perkiraan median 4,59 triliun yen dalam survei LSEG terhadap 23 analis.
Saham Toyota turun setelah laporan tersebut dan ditutup melemah sekitar 2,2%, mencapai level penutupan terendah sejak pertengahan Oktober.
Secara total, dampak krisis Timur Tengah diperkirakan mencapai sekitar 670 miliar yen (US$4,3 miliar) hingga akhir Maret 2027, menurut Toyota. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi banyak perusahaan besar lainnya, termasuk maskapai penerbangan.
Kenaikan harga energi terbaru semakin menekan industri otomotif yang sudah menghadapi tantangan tarif Amerika Serikat dan meningkatnya persaingan dari produsen mobil China.
CEO Volkswagen, Oliver Blume, mengatakan minggu ini bahwa tarif tersebut membebani laba operasional grup Jerman itu hingga 5 miliar euro (US$5,9 miliar) per tahun.
Toyota juga mengatakan minggu lalu bahwa penjualannya di Timur Tengah turun tajam pada Maret setelah pengiriman ke kawasan tersebut terganggu.
Proyeksi ini merupakan panduan pertama yang dirilis Toyota di bawah CEO baru Kenta Kon, yang baru menjabat bulan lalu dan menghadapi tantangan besar dalam memimpin perusahaan melalui dampak tarif Presiden AS Donald Trump, yang mengurangi laba operasional tahun sebelumnya hingga 1,4 triliun yen. (DK)