Pemerintah percepat transisi energi, dari PLTS 100 GW hingga hydrogen
Sabtu, 09 Mei 2026

JAKARTA - Pemerintah Indonesia terus mempercepat agenda transisi energi nasional melalui berbagai langkah strategis, mulai dari pengembangan energi baru terbarukan berskala besar hingga pemanfaatan teknologi rendah emisi di sektor transportasi dan industri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah tengah menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menurunkan ketergantungan pada energi fosil.
Salah satu program utama yang tengah didorong adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW). Proyek ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi bersih di seluruh Indonesia.
“Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah membangun PLTS 100 GW,” ujar Bahlil, dalam keterangan tertulis di laman resmi esdm.go.id, Jumat (8/5).
Selain pengembangan energi surya, pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi alternatif lain seperti hidrogen, amonia, dan nuklir sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi masa depan.
Di sektor konsumsi energi, pemerintah memperluas elektrifikasi melalui kendaraan listrik (EV) serta penggunaan kompor induksi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di tingkat rumah tangga.
Langkah lain yang ditempuh adalah penerapan kebijakan efisiensi energi, moratorium pembangunan PLTU baru, serta pengembangan teknologi penangkapan karbon seperti CCS/CCUS untuk menekan emisi dari sektor industri dan pembangkit listrik.
Bahlil menegaskan bahwa seluruh program tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah, swasta, maupun mitra internasional, agar target transisi energi dapat tercapai secara berkelanjutan.
“Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya untuk menjadi PLTS 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut,” pungkasnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan perubahan iklim global, negara-negara ASEAN mulai menatap sumber energi bersih sebagai masa depan kawasan.
Bagi Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara, transisi menuju energi baru terbarukan bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah strategis untuk membangun ketahanan energi kawasan dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata.
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa subkawasan memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan energi baru terbarukan, mulai dari tenaga air, surya, angin, hingga lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Potensi tersebut, merupakan salah satu modal utama dalam mendukung transisi energi di subkawasan.
"Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN," kata Presiden dalam pidatonya di di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5) waktu setempat. (DK)
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan perubahan iklim global, negara-negara ASEAN mulai menatap sumber energi bersih sebagai masa depan kawasan.
Hamparan sinar matahari di wilayah tropis, aliran sungai-sungai besar, hingga potensi angin di kawasan pesisir menjadi kekuatan baru yang diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Bagi Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara, transisi menuju energi baru terbarukan bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah strategis untuk membangun ketahanan energi kawasan dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata.
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa subkawasan memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan energi baru terbarukan, mulai dari tenaga air, surya, angin, hingga lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Potensi tersebut, merupakan salah satu modal utama dalam mendukung transisi energi di subkawasan.
"Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN," kata Presiden dalam pidatonya di di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5) waktu setempat.