Aramco dan Adnoc diam-diam kirim minyak lewati Selat Hormuz
Sabtu, 09 Mei 2026

DHAHRAN - Saudi Aramco dan Abu Dhabi National Oil Company (Adnoc) tetap mengirim kargo minyak mentah melalui Selat Hormuz meski Iran secara efektif menutup jalur pelayaran tersebut, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Meski volume pengiriman masih jauh lebih kecil dibanding sebelum Teheran menutup jalur minyak hampir 10 pekan lalu, aktivitas kedua perusahaan itu menunjukkan sebagian pasokan energi masih mampu mencapai pasar global.
Iran terus mengancam pelayaran di Selat Hormuz sepanjang konflik berlangsung, mengutip dari Bloomberg.
Pada Jumat, Teheran juga menyita sebuah kapal setelah mendapat serangan dari Amerika Serikat, meski kapal itu diduga merupakan kapal yang dikenai sanksi dan membawa minyak milik Iran sendiri.
Aramco menolak berkomentar, sementara Adnoc belum memberikan tanggapan.
Sejak Selat Hormuz praktis ditutup pada awal Maret, krisis pasokan global semakin memburuk.
Perusahaan-perusahaan energi kini mengambil risiko lebih besar dan membayar biaya lebih tinggi untuk mengirim muatan keluar kawasan.
Sebagian besar pelayaran dilakukan dengan mematikan transponder kapal agar tidak terdeteksi.
Di antara perusahaan yang pasokan dan produksinya terjebak di Teluk Persia, Adnoc menjadi salah satu yang pertama kembali mengirim minyak mentah, bahan bakar, dan gas melalui selat tersebut.
Menurut sumber terkait, Adnoc menawarkan minyak mentah Upper Zakum kepada pelanggan dari perairan Fujairah yang berada di luar Teluk Persia, meski biasanya muatan itu diangkut dari Pulau Zirku.
Pada akhir April, sebuah supertanker bermuatan minyak Abu Dhabi berhasil melintasi Selat Hormuz dengan transponder dimatikan.
Kapal very large crude carrier (VLCC) Basrah Energy keluar dari Hormuz setelah memuat minyak dari Pulau Zirku pada 17 April, berdasarkan data Vortexa.
Setelah keluar dari Teluk Persia, kapal itu berpindah ke perairan yang lebih aman di lepas pantai Sohar untuk memindahkan muatan ke kapal Maran Mars yang kemudian membawa minyak tersebut ke China.
Belum diketahui apakah Basrah Energy disewa langsung oleh Adnoc atau oleh pembeli minyaknya.
Data Kpler menunjukkan kapal supertanker lain, Fujairah Energy, masih berada di Teluk Persia dekat Abu Dhabi dengan muatan setengah penuh minyak dari Pulau Zirku yang diperoleh melalui transfer antarkapal.
Kapal tersebut disebut sementara disewa Adnoc untuk pengiriman minyak ke Asia pada 15–17 Mei dan kemungkinan masih menunggu tambahan muatan sebelum mencoba keluar dari Teluk Persia.
Kedua kapal itu dikendalikan grup pelayaran Korea Selatan, Sinokor Group.
Perusahaan tersebut aktif beroperasi di Teluk Persia sejak perang dimulai dan menawarkan tarif sewa kapal yang melonjak tinggi ketika banyak operator lain memilih menghindari risiko.
Awal pekan ini, kapal tanker Barakah milik Adnoc Logistics & Services terkena serangan drone Iran di lepas pantai Oman saat melintasi Selat Hormuz. Data pelacakan kapal menunjukkan transponder kapal dimatikan saat insiden terjadi.
Aktivitas pengiriman bahan bakar juga terpantau di pelabuhan Hamriyah, Uni Emirat Arab, di mana produk minyak dari penyimpanan darat dimuat ke kapal tanker sebelum dikirim keluar melalui Hormuz.
Selain Adnoc, sejumlah perusahaan lain juga tetap melintasi selat tersebut meski berisiko tinggi, termasuk perusahaan Yunani Dynacom Tankers Management Ltd.
CEO Mercuria Energy Group Marco Dunand sebelumnya mengatakan perusahaannya juga masih mampu mengeluarkan kapal tanker dari kawasan tersebut.
“Banyak cara untuk melakukannya,” ujar Dunand dalam FT Global Commodities Summit, sambil menambahkan jumlah tanker yang melintasi Hormuz sebenarnya lebih banyak dibanding yang terlihat dalam data pelacakan kapal.
Data Bloomberg menunjukkan arus minyak non-Iran melalui Hormuz turun drastis menjadi rata-rata sekitar 500 ribu barel per hari sejak awal Maret.
Sebelum perang dimulai, volume pengiriman mencapai rata-rata 13,6 juta barel per hari.
Pengiriman sejak konflik dimulai dilakukan oleh sedikitnya 25 kapal tanker, mulai dari VLCC berkapasitas sekitar 2 juta barel hingga kapal jenis Aframax dengan kapasitas sekitar sepertiganya.
Sedikitnya empat hingga lima kapal di antaranya dikelola Dynacom yang berbasis di Athena. (DK)