Goldman Sachs: Arus pelayaran Hormuz masih terganggu sampai akhir Juni
Sabtu, 09 Mei 2026

WASHINGTON - Pelaku pasar di Wall Street semakin yakin gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini, mencerminkan ekspektasi terhadap guncangan pasokan energi yang berkepanjangan.
Mayoritas investor yang disurvei memperkirakan arus pelayaran di Selat Hormuz masih akan terganggu setelah akhir Juni.
Sebanyak 43% responden bahkan menilai aktivitas pengiriman baru akan kembali normal setelah Juli, berdasarkan survei Marquee MarketView milik Goldman Sachs.
Survei tersebut juga menunjukkan sepertiga responden memperkirakan harga minyak mentah Brent akan ditutup di kisaran US$80 hingga US$90 per barel pada akhir tahun.
Kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor lebih serius menghitung dampak gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Seperti dikutip Bloomberg, jalur perairan itu praktis tertutup sejak perang pecah pada akhir Februari.
Gangguan tersebut memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membuat para trader minyak terbesar dunia memperingatkan bahwa dampak perang Iran akan terasa selama berbulan-bulan bahkan setelah jalur pelayaran dibuka kembali.
Saat ini Selat Hormuz menghadapi blokade ganda, dengan Teheran menghambat lalu lintas kapal sementara Amerika Serikat mencegah kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran.
Goldman Sachs melakukan survei terhadap 837 klien institusional pada 4–6 Mei.
Survei itu juga menunjukkan posisi jual minyak menjadi strategi favorit investor jika Selat Hormuz kembali dibuka, disusul posisi beli saham Eropa dan pasar negara berkembang.
Meski ketegangan geopolitik terus meningkat, pasar opsi masih menunjukkan permintaan tinggi terhadap perlindungan risiko penurunan harga, karena trader bersiap menghadapi kemungkinan meredanya konflik secara mendadak antara AS dan Iran. (DK)