Kisah Vilseck, kota kecil yang tidak akan melihat lagi tentara AS
Sabtu, 09 Mei 2026

VILSECK – Kota kecil Vilseck di Bavaria, Jerman, yang indah ini telah menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Kini, kota tersebut terancam merasakan dampak besar dari keputusan Presiden Donald Trump yang berencana menarik sedikitnya 5.000 tentara AS dari Jerman, mengutip dari Reuters.
Meski rincian unit yang akan terdampak belum diumumkan secara resmi, Resimen Kavaleri Stryker ke-2, satu-satunya brigade tempur permanen AS di Jerman yang berbasis di Rose Barracks, Vilseck, diperkirakan menjadi salah satu yang akan ditarik.
“Dampaknya akan sangat besar,” kata wali kota baru Vilseck, Thorsten Graedler, yang baru menjabat pekan ini dan langsung menghadapi potensi hilangnya ribuan lapangan kerja di wilayah pedesaan yang sangat bergantung pada keberadaan pangkalan militer tersebut.
Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, keberadaan pangkalan militer AS telah menciptakan ketergantungan ekonomi yang kuat.
Ribuan pekerjaan dengan gaji stabil serta aliran pelanggan bagi bisnis lokal membuat kota ini sangat bergantung pada kehadiran militer.
“Seluruh kota Vilseck sangat bergantung pada area pelatihan militer ini untuk mata pencaharian—mulai dari bar, restoran, bengkel, hingga supermarket,” ujarnya.
TEKANAN AS UNTUK EROPA TAMBAH BELANJA PERTAHANAN
Keputusan penarikan pasukan ini muncul di tengah tekanan Washington agar negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan, serta kritik bahwa ketergantungan pada militer AS membuat Eropa mengabaikan penguatan militernya sendiri.
Pada masa jabatan pertama Trump, rencana penarikan Resimen Kavaleri Stryker, unit tempur berbasis kendaraan lapis baja roda Stryker, pernah dibahas, namun kemudian dibatalkan pada masa Presiden Joe Biden.
“Penting untuk dicatat bahwa belum ada konfirmasi resmi bahwa pasukan Stryker benar-benar akan ditarik. Jadi saya masih punya harapan,” kata Graedler.
Pemerintah Berlin sendiri menyatakan tidak terkejut dengan rencana tersebut, meski dalam beberapa tahun terakhir Jerman telah meningkatkan anggaran pertahanan untuk memperkuat militernya.
Namun, selain dampak ekonomi, perubahan ini juga diperkirakan menimbulkan guncangan budaya bagi kota kecil berpenduduk sekitar 6.500 orang itu, yang selama ini justru lebih sedikit dibanding jumlah personel AS dan keluarganya.
Pada puncak Perang Dingin, hingga 250.000 tentara AS ditempatkan di Jerman.
Kehadiran mereka menjadi bagian penting kehidupan di banyak kota kecil, terutama di wilayah barat daya seperti Vilseck, yang kala itu disebut sebagai “little America” karena fasilitasnya yang lengkap seperti perumahan, toko, dan layanan sendiri.
“Saya tidak pernah mengenal Vilseck tanpa hidup berdampingan dengan orang Amerika,” kata Graedler.
KEHIDUPAN SOSIAL DAN DAMPAK LOKAL
Saat ini, sekitar 35.000 tentara AS masih bertugas di Jerman sebagai kontingen terbesar di Eropa.
Kehadiran mereka masih terlihat jelas di Vilseck, mulai dari aktivitas belanja di supermarket hingga keikutsertaan dalam klub olahraga dan otomotif lokal.
“Saya sudah di sini sejak 2022, hampir empat tahun. Tidak ada yang tidak saya sukai dari Jerman,” kata Sersan Kuliner Robert Moore, 31 tahun, yang tinggal sekitar 20 km dari Vilseck.
Ia menyebut masyarakat setempat ramah, menghormati, dan “sangat aman”.
Bagi banyak warga Vilseck, kepergian pasukan AS akan meninggalkan kesan emosional yang dalam.
“Waktu Stryker datang, kami sempat khawatir mereka akan kasar, tapi ternyata mereka sangat baik,” kata Albin Merkl, 66 tahun, pensiunan yang menyewakan apartemen untuk personel AS.
Ia menambahkan bahwa bisnis lokal selama ini sangat diuntungkan dari keberadaan mereka.
Warga lain, Judith Georgiadis (63), yang pernah bekerja di administrasi pangkalan selama 17 tahun, mengatakan kehidupan kota menjadi jauh lebih sepi setelah pengurangan pasukan AS pasca Perang Dingin.
“Dulu di tahun 80-an, kehidupan di sini luar biasa. Malam hari sangat hidup dengan bar dan pub,” katanya. Kini, ia menilai banyak orang cemas. “Orang-orang yang bekerja untuk militer Amerika takut. Kekhawatiran sangat besar.”
Beberapa pelaku usaha juga sangat bergantung pada pelanggan dari militer AS.
“Banyak dari kami di sini, para pebisnis, membangun usaha 100% untuk pelanggan Amerika,” kata Robert Grassick, pemilik Vilseck Military Auto Sales.
Namun bagi sebagian warga lama, kekhawatiran soal kemungkinan penarikan pasukan AS bukanlah hal baru.
“Sejak dulu selalu jadi pembicaraan: ‘Mereka akan pergi dan menutup pangkalan,’” kata Brenda Hutchinson, 61 tahun, yang keluarganya memiliki sejarah hubungan dekat dengan personel militer AS.
“Bahkan sudah dibicarakan sejak ayah saya masih bertugas di militer.” (DK)