RI–Filipina bangun koridor nikel, perkuat pasokan baterai EV dunia
Sabtu, 09 Mei 2026

JAKARTA - Indonesia dan Filipina resmi menandatangani kesepakatan penting untuk membentuk “Nickel Corridor”, sebuah kawasan kerja sama terintegrasi yang bertujuan memperkuat rantai pasok global nikel untuk industri baterai kendaraan listrik dan produksi baja tahan karat.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Kamis di Cebu, antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia dan Asosiasi Industri Nikel Filipina, mengutip dari ANTARA.
Melalui kerja sama ini, kedua negara membentuk blok strategis baru, mengingat data USGS 2026 menunjukkan Indonesia dan Filipina secara gabungan menguasai sekitar 73,6% produksi nikel dunia pada 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang turut menyaksikan penandatanganan tersebut menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar kesepakatan dagang biasa.
“Ini adalah fondasi Nickel Corridor Indonesia–Filipina, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi smelter Indonesia dengan pasokan bijih dari Filipina,” ujar Airlangga dalam pernyataan resminya, Jumat.
Kerja sama ini juga menjawab kebutuhan teknis industri smelter Indonesia yang terus berkembang.
Untuk menghasilkan material baterai berkualitas tinggi, smelter membutuhkan campuran bijih nikel tertentu yang dapat dipenuhi Filipina melalui komposisi kandungan silikon dan magnesium yang sesuai.
Dalam skema ini, Indonesia memanfaatkan posisinya yang menguasai sekitar 44,5% cadangan nikel dunia, sementara Filipina mendapatkan peran baru dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi.
“Filipina tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan kepastian pasokan bahan baku untuk industri baterai dan baja tahan karat,” kata Airlangga.
Di luar sektor industri, proyek ini juga diposisikan sebagai bagian dari upaya mencapai kemandirian energi, mengingat nikel merupakan mineral penting dalam transisi energi global, khususnya untuk baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi surya.
Kesepakatan ini mencakup pertukaran informasi untuk menstabilkan harga global serta pengembangan teknologi berkelanjutan dalam pengolahan produk sampingan industri.
Pemerintah Indonesia menargetkan investasi sebesar US$47,36 miliar serta penciptaan 180.600 lapangan kerja hingga 2030, dengan kawasan ekonomi khusus (KEK) disiapkan sebagai pusat inovasi baterai berstandar internasional.
Airlangga menegaskan bahwa kolaborasi ini akan memiliki dampak global.
“Ini akan menjadi poros yang tidak terpisahkan dalam pasokan dan produksi nikel dunia,” ujarnya.
Kerja sama ini juga memperkuat hubungan dagang yang sudah kuat antara kedua negara.
Pada 2025, ekspor Indonesia ke Filipina tercatat mencapai US$10,22 miliar, menjadikan Filipina sebagai mitra dagang terbesar ketiga Indonesia setelah China dan Jepang. (DK)