Pendapatan produsen senjata global naik tembus US$679 miliar
Senin, 01 Desember 2025

JAKARTA - Pendapatan penjualan senjata dan layanan militer oleh 100 perusahaan senjata terbesar dunia mencapai US$679 miliar pada 2024, meningkat 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
Dikutip (30/11), perang di Gaza dan Ukraina, ketegangan geopolitik global, dan pengeluaran militer yang tinggi mendorong lonjakan pendapatan perusahaan di Eropa dan Amerika Serikat, sementara Asia dan Oseania mengalami penurunan akibat masalah di industri senjata Tiongkok.
Di AS, Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan General Dynamics memimpin, dengan total pendapatan 39 perusahaan dalam top 100 naik 3,8% menjadi US$334 miliar.
SIPRI mencatat, penundaan yang meluas dan pembengkakan anggaran terus mengganggu proyek-proyek utama seperti F-35 dan kapal selam kelas Columbia dan Virginia.
SpaceX muncul dalam daftar produsen senjata global untuk pertama kalinya, dengan pendapatan US$1,8 miliar, lebih dari dua kali lipat dibanding 2023.
Di Eropa, 23 dari 26 perusahaan senjata mencatat kenaikan pendapatan, total mencapai US$151 miliar. Czechoslovak Group mencatat kenaikan tertinggi, 193% menjadi US$3,6 miliar, berkat produksi artileri untuk Ukraina.
JSC Ukrainian Defense Industry menaikkan pendapatannya 41% menjadi US$3 miliar.
SIPRI memperingatkan, pengadaan bahan baku terutama dalam kasus ketergantungan pada mineral penting dapat menimbulkan tantangan yang semakin besar karena ketegangan ekspor Tiongkok.
Di Asia, pendapatan turun 1,2% menjadi US$130 miliar, terutama akibat penurunan 31% pada NORINCO. Namun produsen Jepang dan Korea Selatan mencatat lonjakan, masing-masing 40% dan 31%, terkait ketegangan Taiwan dan Korea Utara.
Di Timur Tengah, untuk pertama kalinya 9 perusahaan masuk top 100 dengan pendapatan gabungan US$31 miliar, naik 14%. Tiga perusahaan Israel mencatat peningkatan 16% menjadi US$16,2 miliar, dengan Elbit Systems US$6,28 miliar, Israel Aerospace Industries US$5,19 miliar, dan Rafael Advanced Defense Systems US$4,7 miliar. SIPRI menyebut, “permintaan untuk sistem pertahanan udara Rafael meningkat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya” setelah serangan balasan Iran.
Lima perusahaan Turki juga mencatat pendapatan US$10,1 miliar, naik 11%, termasuk Baykar yang 95% pendapatannya berasal dari ekspor.
Selain itu, perusahaan militer dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, India, Taiwan, Norwegia, Kanada, Spanyol, Polandia, dan Indonesia juga tercatat dalam peringkat.(DH)