Penjualan rumah anjlok 25,67% di kuartal I, apa sebabnya?
Minggu, 10 Mei 2026

JAKARTA – Penjualan properti residensial di pasar primer merosot 25,67% secara tahunan pada kuartal I 2026 atau dari periode yang sama tahun lalu, menurut Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI).
Hasil tersebut berbalik dari pertumbuhan 7,83% yang terjadi pada kuartal IV 2025.
Namun dari sisi penjualan, BI mencatat hasil survei menunjukkan penjualan unit properti hunian tipe menengah tetap meningkat di kuartal pertama. Sementara penjualan unit hunian tipe kecil dan besar cenderung melambat.
“Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 1 0 kota di antaranya mengalami perlambatan pertumbuhan dan 3 kota mengalami penurunan IHPR secara tahunan,” jelas BI, dalam laporan hasil surveinya yang disampaikan Jumat (8/5).
Laporan BI juga menyebut beberapa faktor yang menghambat kinerja penjualan rumah di kuartal pertama tahun ini.
Sekitar 20,97% responden menyatakan kenaikan harga bahan bangunan menjadi penghambat dalam penjualan unit properti di kuartal pertama.
Kemudian sebanyak 18,15% responden menyatakan masalah izin dan birokrasi menjadi penghambat, 16,47% menyatakan terhambat oleh suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), 12,16% terhambat uang muka pengajuan KPR, dan 11,28% menghadapi masalah pajak.
Meski demikian, suku bunga KPR pada triwulan I 2026 tetap stabil di level 7,42%. Posisi ini tidak berubah dari suku bunga pada kuartal IV 2025.
Dari sisi pembiayaan, pengembang masih menggantungkan 80,66% pendanaan proyek dari kas internal, untuk membangun properti residensial.
Sementara dari sisi konsumen, pembelian rumah di pasar primer masih didominasi skema KPR yang menguasai 69,87% terhadap total metode pembayaran. (KR)