Demam emas batangan melanda China, produksi melambat
Minggu, 10 Mei 2026

JAKARTA – Volume produksi emas di China pada turun 3,3% secara tahunan menjadi 136,23 metrik ton pada kuartal pertama 2026.
Menurut data China Gold Association (CGA), penurunan itu menyusul penutupan sejumlah smelter untuk sementara waktu, dalam rangka perawatan rutin.
Sedangkan tanpa memperhitungkan impor bahan baku yang diimpor, CGA mencatat produksi emas di China turun 7,1% secara tahunan menjadi 81,06 ton.
CGA juga melaporkan permintaan emas di China naik 4,4% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, menjadi 303,29 ton.
Kenaikan ini berkat lonjakan pembelian emas batangan dan koin hingga 46,4% menjadi 202,06 ton. Sedangkan konsumsi emas perhiasan turun 37,1% menjadi 84,62 ton.
“Minat investasi terhadap emas tetap kuat, emas batangan dan koin menjadi produk investasi banyak diminati, dan penjualan emas batangan lewat bank naik signifikan,” kata CGA dalam pernyataan resminya.
Menurut data World Gold Council, China adalah produsen emas terbesar di dunia dengan volume yang dihasilkan sebesar 380,2 ton pada 2024, lebih tinggi dari Australia dan Rusia.
Sementara di kawasan Asia, Indonesia menjadi produsen emas terbesar kedua setelah China, dengan volume produksi 140,1 ton. Filipina dan Turki menyusul setelah Indonesia, dengan volume produksi masing-masing 38,8 ton dan 30,6 ton. (KR)