Data perlihatkan Jepang jual obligasi AS. Untuk intervensi yen?
Senin, 11 Mei 2026

NEW YORK - Data Federal Reserve menunjukkan kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang disimpan untuk bank sentral dan lembaga asing turun untuk pertama kalinya dalam sebulan, di tengah dugaan intervensi Jepang untuk menopang yen.
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Tokyo menjual obligasi AS guna membiayai pembelian mata uang domestiknya, mengutip dari Bloomberg.
Berdasarkan data The Fed hingga 6 Mei, kepemilikan US Treasury untuk akun resmi asing dan internasional turun US$8,7 miliar menjadi US$2,73 triliun.
Pada periode yang sama, Kementerian Keuangan Jepang diperkirakan menghabiskan sekitar US$54,7 miliar untuk intervensi mendukung yen.
Penurunan kepemilikan tersebut dinilai sejalan dengan kemungkinan Jepang melepas obligasi AS sebagai sumber dana intervensi pasar valuta asing.
Jika Jepang benar menjual sebagian portofolio Treasury-nya, langkah itu berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS yang saat ini sudah tertekan akibat lonjakan harga minyak dan kekhawatiran perang Iran akan memperlebar defisit fiskal Amerika Serikat.
Jepang sendiri merupakan pemegang asing terbesar surat utang pemerintah AS.
Untuk menopang mata uang likuid seperti yen, intervensi biasanya membutuhkan dana miliaran dolar.
“Pergerakan pada akun tersebut tampaknya berkorelasi dengan instruksi Kementerian Keuangan Jepang kepada Bank of Japan untuk melakukan intervensi,” kata Rodrigo Catril, Analis Strategi Valuta Asing Senior di National Australia Bank, Sydney.
Ia menilai intervensi seperti ini biasanya bersifat sporadis.
Namun, jika menjadi pola rutin, hal itu dapat menjadi masalah bagi pasar obligasi AS.
Data mingguan The Fed dirilis hanya beberapa hari sebelum Menteri Keuangan AS Scott Bessent melakukan kunjungan ke Jepang.
Dalam lawatan itu, ia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Sanae Takaichi, Menteri Keuangan Satsuki Katayama, serta Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda.
Menurut laporan Nikkei, pembahasan kemungkinan akan mencakup pergerakan terbaru di pasar mata uang.
Yuxuan Tang, kepala strategi suku bunga dan valuta asing Asia di JPMorgan Private Bank Hong Kong, mengatakan kemampuan BOJ menggunakan cadangan devisa yang ditempatkan di Federal Reserve New York memungkinkan Jepang melakukan intervensi saat likuiditas pasar Treasury AS sedang tinggi.
Menurutnya, Jepang juga cenderung menggunakan obligasi Treasury jangka pendek dibanding obligasi tenor panjang untuk meminimalkan gangguan pasar.
BOJ sendiri bertindak sebagai agen Kementerian Keuangan Jepang dalam setiap intervensi valuta asing.
Sementara itu, analis Bank of America di Tokyo, Shusuke Yamada, menilai episode intervensi sebelumnya tidak menunjukkan penurunan signifikan pada komponen kas cadangan devisa Jepang.
Jika pola serupa terjadi kali ini, maka kondisi tersebut mengindikasikan memburuknya keseimbangan permintaan dan pasokan sekitar US$70 miliar di pasar obligasi terkait, yang secara umum diasumsikan sebagai pasar US Treasury. (DK)