Greg Abel akhiri tren jual saham Berkshire era Buffett, sinyal apa?
Senin, 11 Mei 2026

NEW YORK - Penerus Warren Buffett di Berkshire Hathaway, Greg Abel, baru saja mengakhiri tren 13 kuartal berturut-turut perusahaan menjual lebih banyak saham dibanding membeli.
Seperti dikutip The Motley Fool, langkah ini memicu spekulasi bahwa Berkshire mulai kembali melihat peluang investasi di pasar saham.
Selama tiga tahun terakhir sebelum pensiun, Buffett terus meningkatkan posisi kas Berkshire. Cadangan kas perusahaan melonjak dari US$129 miliar pada akhir 2022 menjadi US$373 miliar saat ia meninggalkan posisinya.
Strategi itu dipandang sebagai sinyal bahwa Buffett menganggap sebagian besar saham di pasar sudah terlalu mahal.
Pada kuartal pertama 2026, Abel bersama manajer investasi Ted Weschler membeli hampir US$16 miliar saham yang diperdagangkan di pasar.
Nilai itu hampir menyamai total belanja saham Berkshire sepanjang tahun lalu di bawah Buffett.
Meski begitu, Berkshire juga menjual lebih dari US$24 miliar saham pada periode yang sama. Sebagian penjualan diduga berasal dari portofolio Todd Combs, yang hengkang dari perusahaan pada akhir tahun lalu.
Namun, Berkshire juga mengakuisisi OxyChem dari Occidental Petroleum senilai US$9,7 miliar. Akuisisi itu dicatat dalam laporan arus kas sebagai pembelian bisnis baru.
Jika pembelian OxyChem digabung dengan pembelian saham lainnya, total belanja Berkshire pada kuartal lalu melampaui nilai penjualan aset.
Ini menjadi pertama kalinya sejak 2022 Berkshire mengalokasikan lebih banyak dana untuk membeli bisnis atau saham dibanding menjualnya.
Perubahan arah tersebut memunculkan pertanyaan apakah pasar saham kini mulai menawarkan valuasi menarik.
Namun, Buffett sebelumnya menegaskan lingkungan pasar saat ini masih belum ideal untuk menggelontorkan dana besar Berkshire.
Sikap hati-hati itu juga terlihat dari aksi buyback saham Berkshire.
Setelah mengaktifkan kembali program pembelian saham pada Maret, Abel hanya membeli kembali saham senilai US$238 juta, meski valuasi perusahaan sudah turun ke level price-to-book terendah dalam lebih dari dua tahun.
Hal itu menunjukkan Abel kemungkinan masih menilai harga pasar saham belum sepenuhnya mencerminkan nilai intrinsik perusahaan.
Meski demikian, strategi Berkshire tidak selalu mencerminkan kondisi seluruh pasar.
Dengan cadangan kas ratusan miliar dolar, Berkshire harus mencari peluang investasi dalam skala sangat besar, berbeda dengan investor ritel yang memiliki fleksibilitas lebih tinggi.
Selain itu, Buffett mengakui dirinya menghindari banyak saham teknologi karena merasa kurang memahami bisnis tersebut. Abel kemungkinan masih menerapkan pendekatan serupa dengan fokus pada sektor yang benar-benar dipahami perusahaan.
Karena itu, meski Berkshire masih berhati-hati terhadap pasar saham, investor individu dinilai tetap dapat menemukan peluang menarik melalui riset dan pemahaman mendalam terhadap perusahaan tertentu. (DK)