Iran: Nilai strategis Selat Hormuz setara bom atom

Senin, 11 Mei 2026

image

TEHERAN - Iran menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini menjadi aset strategis yang nilainya disejajarkan dengan bom atom, di tengah negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat mengenai proposal kesepakatan baru.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada Sabtu bahwa Teheran masih mempelajari proposal Washington yang disampaikan melalui perantara.

Namun di saat yang sama, pejabat Iran dan media yang dekat dengan pemerintah terus menyoroti pentingnya Selat Hormuz dalam doktrin keamanan nasional negara itu, mengutip dari Aljazeera.

Mohamad Mokhber, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan mantan wakil presiden era Ebrahim Raisi, menyebut Selat Hormuz sebagai kemampuan strategis “setingkat bom atom”.

“Ini adalah kemampuan yang bisa memengaruhi seluruh ekonomi global hanya dengan satu keputusan,” ujarnya kepada kantor berita Mehr pada Jumat.

Menurut Mokhber, Iran tidak akan melepaskan kendali atas jalur pelayaran vital tersebut dan akan berupaya mengubah aturan pengelolaan Selat Hormuz melalui jalur internasional maupun undang-undang domestik.

Wakil Presiden Iran saat ini, Mohammad Reza Aref, juga menegaskan bahwa penguasaan atas Selat Hormuz akan menjadi alat untuk melawan sanksi Amerika Serikat, termasuk tekanan terhadap ekspor minyak Iran.

“Kami tidak lagi menghadapi sesuatu yang disebut sanksi, karena perilaku terbaru Trump dan musuh-musuh Iran justru memperkuat pandangan kami terhadap selat ini,” katanya.

Aref menambahkan Iran akan memastikan keamanan jalur perairan tersebut sekaligus memberi manfaat bagi negara-negara kawasan.

Di tengah meningkatnya tensi, media dan tokoh garis keras Iran juga mulai membandingkan Selat Hormuz dengan “Uhud Pass”, merujuk pada celah strategis dalam sejarah perang Islam yang dianggap menentukan kemenangan atau kekalahan.

Presenter televisi Hossein Hosseini mengatakan Iran tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya terkait penguasaan Selat Hormuz.

“Musuh harus tahu bahwa kondisi selat ini tidak akan pernah kembali seperti dulu,” katanya.

Sejumlah pesan yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei, yang disebut menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi setelah perang pecah, juga menekankan pentingnya mempertahankan kendali atas jalur pelayaran tersebut.

Di sisi lain, media pemerintah Iran kembali menayangkan pidato lama mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani yang menegaskan Iran hanya akan menutup Selat Hormuz jika Teluk Persia tidak lagi bisa digunakan oleh Iran sendiri.

“Jika Teluk Persia tidak bisa digunakan untuk kami, maka kami juga akan membuatnya tidak bisa digunakan pihak lain,” ujar Rafsanjani dalam pidato lamanya.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan kapal perang AS beberapa kali terlibat insiden baku tembak di sekitar Selat Hormuz. 

Washington juga terus memperketat blokade laut terhadap pelabuhan Iran sambil mempertimbangkan perluasan operasi “Project Freedom”, meski gencatan senjata bulan lalu masih dinyatakan berlaku. (DK)