Revisi royalti ancam laba emiten tambang, saham energi jeblok

Senin, 11 Mei 2026

image

JAKARTA – Rencana pemerintah Indonesia menaikkan royalti untuk sejumlah komoditas mineral, menjadi sentimen negatif bagi pasar saham terutama pada emiten yang terkait dengan mineral dan batu bara (minerba).

Indeks saham untuk sektor energi turun 2,75% hingga pukul 10.30 WIB awal pekan ini, menyusul penurunan saham berkapitalisasi pasar jumbo dari sektor ini.

Mulai dari PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang mencatat penurunan 1,34%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 7,63%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 4,46%, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) 2,78%.

Dalam dokumen Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang membahas rencana kenaikan royalti, sejumlah komoditas menghadapi tarif yang lebih tinggi.

Usulan kenaikan terbesar terjadi pada komoditas timah, dari tarif sebelumnya berkisar antara 3-10% menjadi 5-20%.

Sementara tarif konsentrat tembaga diusulkan naik dari 7-10% menjadi 9-13%, katoda tembaga naik dari 4-7% menjadi 7-10%, dan emas dari 7-16% menjadi 14-20%.

Tarif royalti untuk perak yang sebelumnya flat di 5%, akan diusulkan berubah jadi 5-8%. Terakhir, tarif royalti nikel tidak berubah di kisaran 14-19% namun harga acuannya diusulkan berubah.

Riset analis Stockbit Sekuritas Digital pada akhir pekan lalu menyebut setiap sentimen kenaikan tarif, memang selalu diikuti reaksi negatif.

Emiten yang menghadapi usulan kenaikan tarif royalti terbesar seperti TINS, menurut riset tersebut, akan paling terdampak jika kebijakan baru ini berlaku.

“Sedangkan efek ke emiten nikel yang paling minimum, terutama emiten nikel dengan bisnis yang terdiversifikasi seperti Aneka Tambang (ANTM),” jelas riset Stockbit.Di sisi lain, riset analis Stockbit menilai kenaikan royalti komoditas minerba masih akan dibayangi oleh wacana bea ekspor dan windfall tax, yang saat ini disiapkan oleh Kementerian Keuangan.

“Oleh karena itu, kami menilai bahwa pergerakan sektor minerba secara keseluruhan masih akan volatil dalam jangka pendek,” tulis riset Stockbit.

Menyusul penurunan saham-saham energi, IHSG turun 0,81% ke 9.613 hingga pukul 11.30 WIB. Indeks sektor energi turun paling dalam setelah transportasi, sementara hanya dua sektor yang menguat yaitu infrastruktur 1,8% dan kesehatan 0,73%.

Penurunan indeks saham energi dan sejumlah emiten tambang terjadi lebih dalam lagi pada perdagangan Jumat (8/5) pekan lalu.

Emiten tambang lain seperti PT Amman Minerals Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) merosot lebih dari 10% dalam sehari. Ketiga saham ini pun menjadi pemberat dan membuat IHSG turun 2,86%. (KR)