Dua tanker minyak matikan pelacak lolos dari Selat Hormuz

Senin, 11 Mei 2026

image

JAKARTA - Dua kapal tanker super pengangkut minyak mentah dilaporkan berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan mematikan sistem pelacak mereka untuk menghindari potensi serangan Iran, menurut data pelayaran Kpler.

Seperti dikutip Marinelink, VLCC Basrah Energy yang mengangkut 2 juta barel minyak Upper Zakum milik Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC) meninggalkan terminal Zirku, Abu Dhabi, pada 1 Mei dan melintasi Selat Hormuz pada 6 Mei dalam kondisi transponder dimatikan. Data menunjukkan kapal berbendera Panama itu kemudian membongkar muatannya di Terminal Minyak Fujairah pada 8 Mei.

Hingga kini belum diketahui pihak yang menyewa kapal milik dan dikelola perusahaan pelayaran Sinokor tersebut. Sinokor belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Secara terpisah, VLCC Kiara M juga terdeteksi keluar dari Teluk Persia pada Minggu dengan sistem transponder nonaktif. Kapal berbendera San Marino itu membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Irak, namun tujuan akhirnya belum diketahui.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait pembicaraan damai. “Aku tidak menyukainya -  SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA,” tulis Trump di Truth Social tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Penolakan itu memupus harapan berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan dan memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak langsung melonjak US$3 per barel setelah Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan.

Media pemerintah Iran menyebut proposal tersebut menuntut kompensasi atas kerusakan perang, penghentian blokade laut AS, pencabutan sanksi, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Iran juga menegaskan kedaulatannya atas jalur pelayaran strategis yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan Iran membuka opsi pengenceran sebagian uranium yang diperkaya tinggi dan memindahkan sisanya ke negara ketiga sebagai bagian dari kompromi diplomatik.

Di tengah ancaman terhadap pelayaran internasional, kapal LNG Al Kharaitiyat milik QatarEnergy berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Pelabuhan Qasim, Pakistan. Itu menjadi kapal LNG Qatar pertama yang berhasil melewati jalur tersebut sejak perang pecah pada 28 Februari.

Meski sempat terjadi gencatan senjata, eskalasi militer masih berlanjut. Uni Emirat Arab mengaku mencegat dua drone yang datang dari Iran, sementara Qatar mengecam serangan drone terhadap kapal kargo di perairannya. Kuwait juga melaporkan sistem pertahanannya menghadang drone asing yang memasuki wilayah udara negara itu.

Trump sendiri menghadapi tekanan besar untuk mengakhiri perang sebelum kunjungannya ke China pekan ini. Konflik yang memicu krisis energi global itu dinilai mulai membebani ekonomi dunia dan menekan popularitas domestiknya menjelang pemilu Kongres AS. “Mereka memang kalah, tetapi bukan berarti mereka sudah selesai,” kata Trump saat ditanya mengenai operasi militer terhadap Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang belum selesai dan menyebut masih ada “masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan” untuk menghancurkan program nuklir Iran serta kemampuan rudal balistik Teheran.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah. “Iran tidak akan pernah tunduk kepada musuh,” tulis Pezeshkian di media sosial. Ancaman terhadap Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik. Jalur sempit itu sebelumnya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global.(DH)