Perang hantam ekonomi Iran, inflasi pangan tembus 115%
Senin, 11 Mei 2026

JAKARTA - Perang yang berkepanjangan dan tekanan ekonomi kini menghantam langsung dapur rumah tangga Iran. Inflasi pangan melonjak tajam hingga menembus tiga digit, memaksa jutaan warga memangkas konsumsi kebutuhan pokok di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum mereda.
Seperti dikutip Aljazeera, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui situasi ekonomi negaranya semakin berat. Dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah pada Minggu, ia meminta masyarakat memahami kondisi negara yang tertekan akibat perang dan sanksi. “Masyarakat harus memahami secara realistis kondisi dan batasan-batasan negara ini,” kata Pezeshkian, seperti dikutip media pemerintah Iran.
“Wajar jika terdapat kesulitan dan masalah dalam perjalanan ini, tetapi melalui kerja sama masyarakat dan mengandalkan persatuan nasional, masalah dapat diatasi.” lanjutnya.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Statistical Center of Iran (SCI) melaporkan inflasi tahunan mencapai 73,5% pada Farvardin bulan pertama kalender Persia yang berakhir pada 20 April. Angka tersebut melonjak dibanding bulan sebelumnya.
Bank Sentral Iran mencatat inflasi sedikit lebih rendah di level 67%, namun tetap menunjukkan percepatan kenaikan harga yang drastis. Kedua data tersebut menegaskan tekanan ekonomi Iran semakin memburuk dan terus menggerus daya beli masyarakat.
Kenaikan harga pangan bahkan jauh melampaui inflasi umum. SCI mencatat inflasi pangan mencapai 115% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sejumlah bahan pokok mengalami lonjakan ekstrem. Harga minyak goreng padat melejit 375%, minyak goreng cair 308%, beras impor 209%, beras lokal 173%, dan daging ayam 191%.
Warga Teheran mengaku kini kesulitan membeli barang yang sebelumnya masih mampu dijangkau. “Dan bukan hanya saya, kebanyakan orang di masyarakat saat ini tidak mampu membeli banyak hal yang mereka inginkan,” kata seorang warga kepada Al Jazeera.
Kondisi serupa dirasakan pelaku usaha kecil. Majid, pekerja warung kebab hati di Teheran, mengatakan harga bahan baku melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir sehingga tempat usahanya terpaksa menaikkan harga hingga tiga kali.
“Harga hati telah berlipat ganda. Ketika kami bertanya kepada pemasok mengapa, mereka mengatakan ada kekurangan pasokan atau domba sedang diekspor. Sejujurnya, tidak ada pengawasan yang nyata,” ujarnya.
Pemerintah Iran berupaya menahan gejolak harga melalui subsidi tunai dan voucher elektronik untuk pembelian kebutuhan pokok. Namun nilai bantuan yang diberikan kurang dari US$10 per orang per bulan dan dinilai tidak cukup menahan lonjakan biaya hidup.
Di saat bersamaan, nilai tukar rial terus terpuruk. Mata uang Iran diperdagangkan di kisaran 1,77 juta rial per dolar AS di pasar bebas Teheran pada Minggu sore, jauh lebih lemah dibanding sekitar 830 ribu rial per dolar AS setahun lalu.
Pemerintah menyalahkan perang, sanksi Barat, serta praktik penimbunan barang sebagai penyebab utama kenaikan harga. Sejumlah politisi garis keras dan media yang dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan menuding lonjakan harga sebagai bagian dari “balas dendam ekonomi” oleh musuh Iran.
“Saya ingin rakyat Iran tidak tertipu oleh kenaikan harga yang dibuat oleh musuh,” kata seorang narasumber di jaringan televisi pemerintah Ofogh. “Hal-hal besar telah terjadi, dan hal-hal besar akan datang. Prestasi ekonomi selama perang tidak tertandingi oleh periode mana pun,” lanjutnya.
Namun tekanan terhadap ekonomi Iran tidak hanya datang dari perang dan blokade. Pemadaman internet nasional yang telah berlangsung selama 72 hari juga memperparah situasi bisnis dan aktivitas ekonomi.
Asosiasi Bisnis Berbasis Internet Iran menggambarkan kondisi ekosistem digital negara itu berada di titik kehancuran. “Ekosistem startup di negara ini sudah mati, kita sedang mencari batu nisan untuknya,”tulis asosiasi tersebut dalam pernyataan resminya.
Kombinasi perang, sanksi, blokade laut, inflasi tinggi, pelemahan mata uang, dan pemutusan internet kini menciptakan tekanan ekonomi besar bagi Iran. Di tengah upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik, jutaan warga Iran menghadapi kenyataan pahit, harga kebutuhan pokok melonjak jauh lebih cepat dibanding kemampuan mereka untuk bertahan hidup.(DH)