Tambah 100 gerai, FORE sasar laba naik 70% di 2026 tanpa naikkan harga
Senin, 11 Mei 2026
JAKARTA – PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE), pengelola jaringan gerai kopi Fore, menyebutkan bahwa Perseroan siap menambah 100 gerai baru di tahun 2026, menyusul keberhasilan ekspansi 90 gerai di tahun 2025.
“Ada pembagian antara Fore Coffee dan Fore Donut,” jelas M. Fahmi Rachmattulah, Direktur FORE, dalam gelaran Public Expose 2026, Senin (11/5).
Menurut Fahmi, pembukaan gerai baru Fore Coffee akan mulai menyasar kota-kota tier-2 dan tier-3, seperti Ambon dan Banda Aceh. “Yang sudah mencakup lebih dari 40% dari total pembukaan gerai baru pada kuartal I 2026,” imbuhnya.
Sementara itu, ekspansi gerai Fore Donut masih akan difokuskan di kota tier-1, termasuk gerai di Bandara Soekarno Hatta, hingga Bandung dan Surabaya.
Hingga akhir 2025, FORE telah mengelola 316 gerai aktif, atau bertambah 36,8% secara tahunan. Dengan target tambahan gerai baru tahun ini, maka FORE diproyeksi akan dapat mengelola hingga 400 lebih gerai di akhir 2026.
Untuk aksi ekspansi jaringan ini, FORE telah mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp250 miliar.
“Rp200 miliar untuk coffee, Rp50 miliar sisanya untuk donat dan sentra kitchennya,” jelas Tjhong Pie Chen, Direktur FORE, dalam kesempatan yang sama.
Dengan aksi ekspansi yang cukup agresif tersebut, manajemen FORE menargetkan pendapatan tahun 2026 bertumbuh 50% dari raihan tahun lalu.
“Untuk top-line, kami targetkan pertumbuhan 50%, sedangkan untuk laba bersihnya, kami targetkan tumbuh 70%,” tegas Fahmi lebih lanjut.
Sebagai catatan, hingga akhir 2026, FORE membukukan lonjakan pendapatan hingga 44% menjadi Rp1,50 triliun, sedangkan pendapatannya melesat 54,8% menjadi Rp90,13 miliar.
Dampak konflik Timur TengahTarget ini tampak ambisius, terutama mengingat perekonomian dalam negeri tengah terdampak konflik di Timur Tengah dan gangguan rantai pasok bahan bakar dan industri lain akibat penutupan Selat Hormuz.
Vico Lomar, Direktur Utama FORE, mengakui bahwa beberapa vendor telah mengajukan proposal kenaikan harga bahan baku pada manajemen FORE, terutama karena adanya kenaikan harga bahan bakar serta solar untuk industri.
“Paling tinggi kenaikan di harga plastik,” ungkap Vico dalam Public Expose 2026, Senin (11/5).
Untuk mengantisipasi kenaikan harga tersebut, Vico menyebutkan bahwa Perseroan akan menggunakan skema kontrak tahunan untuk mengunci harga beberapa bahan baku yang diproyeksi akan naik.
“Sampai saat ini, kami bisa memitigasi [kenaikan harga bahan baku] dengan kontrak tersebut,” jelas Vico.
Ia pun menegaskan bahwa FORE tidak akan menaikkan harga produk kopinya di tengah lonjakan harga bahan baku. Namun, ia menyebutkan bahwa manajemen akan terus memantau perkembangan konflik di Selat Hormuz tersebut.
“Tidak ada rencana menaikkan harga dari Fore Kopi,” pungkas Vico. (ZH)