Goldman Sachs: 40% Orang kaya AS mengaku tetap hidup dari gaji ke gaji

Jumat, 15 Mei 2026

image

JAKARTA - Tekanan biaya hidup di Amerika Serikat kini tidak lagi hanya menghantam kelompok berpenghasilan rendah. Survei terbaru Goldman Sachs Asset Management menunjukkan 40% warga Amerika dengan pendapatan di atas US$300 ribu per tahun masih hidup dari gaji ke gaji.

Seperti dikutip 247 Wallst, laporan bertajuk 2025 Retirement Survey & Insights Report itu menggambarkan perubahan besar dalam kondisi keuangan rumah tangga AS. Goldman Sachs menyebut lonjakan biaya hidup, utang, pendidikan, kesehatan, hingga perumahan telah menciptakan “Pusaran Keuangan” pusaran tekanan finansial yang menggerus kemampuan masyarakat menabung untuk masa pensiun.

Laporan itu menegaskan tekanan tersebut bukan lagi masalah sementara, melainkan persoalan struktural yang terus memburuk. “Laporan tersebut disampaikan secara terus terang: menabung lebih banyak ‘mungkin bukan pilihan bagi banyak orang.’”

Goldman Sachs mencatat biaya kebutuhan dasar melonjak drastis sejak tahun 2000. Beban kepemilikan rumah naik dari 21% pendapatan menjadi 36% pada 2025, biaya sewa rumah dari 18% menjadi 29%, childcare dari 10% menjadi 25%, biaya kuliah swasta dari 9% menjadi 33%, dan asuransi kesehatan keluarga dari 12% menjadi 33%. Kenaikan biaya tersebut mempersempit ruang antara pendapatan dan pengeluaran sehingga kemampuan menabung masyarakat semakin tertekan.

Survei terhadap para pekerja menunjukkan 67% responden mengaku terlalu banyak pengeluaran bulanan menghambat tabungan pensiun. Sebanyak 64% menyebut kesulitan keuangan, 62% terbebani dukungan terhadap keluarga, 58% tertekan utang kartu kredit, dan 57% masih harus membayar pinjaman lama.

Goldman Sachs juga menyoroti inflasi kini paling terasa pada sektor-sektor utama yang justru paling banyak menyerap pengeluaran rumah tangga kelas menengah dan atas seperti pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan anak.

Biaya kuliah, layanan medis, rumah sakit, dan childcare disebut terus naik jauh lebih cepat dibanding inflasi umum dan diperkirakan akan terus melampaui pertumbuhan upah hingga 2035. Tekanan ekonomi itu ikut mengubah pola kehidupan masyarakat Amerika. Usia pernikahan pertama semakin mundur, usia ibu pertama meningkat, dan usia pembelian rumah pertama juga naik tajam.

Di sisi lain, survei menemukan paradoks psikologis di kalangan pekerja Amerika. Sebanyak 68% responden merasa tabungan pensiun mereka berada di jalur aman, dan jumlah yang sama mengaku percaya diri bisa mencapai target pensiun.

Namun secara bersamaan, 58% percaya mereka tetap akan kehabisan uang di masa tua. Goldman Sachs menyebut fenomena itu sebagai “optimis gap” jurang antara rasa percaya diri masyarakat dengan realitas matematika jangka panjang.

Meski demikian, para pensiunan yang sudah menjalani masa pensiun justru melaporkan kondisi yang relatif lebih baik dari perkiraan banyak pekerja muda. Rata-rata pensiunan menerima 60% pendapatan sebelum pensiun, 71% merasa puas dengan penghasilan mereka, dan 82% menyebut gaya hidup setelah pensiun sama atau lebih baik dibanding sebelumnya.

Laporan itu juga menunjukkan pendapatan tinggi tidak otomatis menjamin keamanan finansial. Goldman Sachs menilai tekanan biaya hidup ikut membesar seiring kenaikan penghasilan karena kebutuhan seperti rumah, pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup juga meningkat.

Generasi muda menjadi kelompok yang paling tertekan. Lebih dari 75% milenial dan lebih dari 70% Gen Z mengaku prioritas finansial lain menghambat kemampuan mereka menabung untuk pensiun. Sebaliknya, hanya sekitar 30% generasi Baby Boomers yang menghadapi tekanan serupa.

Goldman Sachs menegaskan ekonomi baru di Amerika menuntut strategi pensiun yang berbeda. Pendapatan tinggi saja tidak cukup untuk menghadapi lonjakan biaya hidup, masa pensiun yang lebih panjang, dan tekanan inflasi jangka panjang.

“Ekonomi pensiun yang baru menuntut tabungan yang lebih awal dan lebih stabil, nasihat yang dipersonalisasi, pilihan pendapatan seumur hidup yang terlindungi, dan strategi yang memperhitungkan kenaikan biaya dan masa pensiun yang lebih panjang.” (DH)