Penyesuaian stok, kinerja SIDO kuartal pertama 2026 turun 19%
Selasa, 12 Mei 2026

JAKARTA - Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) atau biasa disebut Sido Muncul, Irwan Hidayat menyebut penurunan kinerja pada kuartal I 2026 bukan disebabkan melemahnya permintaan pasar, melainkan strategi perusahaan melakukan inventory adjustment atau penyesuaian stok di tingkat distributor.
Irwan mengatakan Sido Muncul sengaja membatasi pengiriman produk ke distributor setelah menemukan stok di pasar menumpuk hingga dua sampai tiga bulan.“Penjualan turun karena kami sengaja batasi distribusi. Distributor mau ambil barang pun sekarang dibatasi,” ujar Irwan dalam paparannya kepada IDNFinancials.com, di kantor SIDO, Jakarta, Selasa (12/5).
Menurut Irwan, selama ini pola penjualan berjenjang membuat distributor terdorong mengambil barang dalam jumlah besar demi memperoleh harga lebih murah maupun insentif tambahan.
"Kondisi itu memicu penumpukan stok dan perang harga di pasar," katanya.Ia menilai harga produk menjadi “rusak” karena distributor masih bisa menjual barang dengan harga murah dari stok lama yang dibeli saat harga lebih rendah.Untuk mengatasi hal tersebut, sambung Irwan Sido Muncul menghentikan skema pembelian berjenjang dan memperketat distribusi.Perseroan kini hanya mengizinkan stok distributor berada di level sekitar 14 hari untuk pulau Jawa dan 21 hari untuk luar Jawa.Meski penjualan ke distributor atau selling in turun, Irwan menegaskan permintaan konsumen akhir atau selling out tetap stabil, bahkan meningkat di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
“Kinerja laporan memang turun, tapi permintaan konsumen tidak turun. Produk tetap jalan,” katanya.Ia menambahkan sejumlah produk utama Sido Muncul masih memimpin pasar, termasuk Tolak Angin dengan pangsa pasar sekitar 72%.
Sementara beberapa produk herbal lain disebut menguasai pasar hingga 90% di segmennya.“Ke depan, perusahaan akan fokus memperbaiki efisiensi distribusi, menjaga harga pasar, memperkuat riset herbal, hingga memperluas pasar ekspor ke negara seperti Arab Saudi dan China,” imbuh Irwan.
Meski dihadapkan kenaikan harga bahan baku impor dan kemasan plastik akibat pelemahan rupiah, Irwan menilai dampaknya terhadap perusahaan masih relatif terbatas dibanding industri farmasi karena mayoritas bahan baku Sido Muncul berasal dari dalam negeri.
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan per 31 Maret 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk SIDO menyusut 36,8% dari Rp232 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp147 miliar pada kuartal I 2026.
Penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh melemahnya pendapatan Perseroan. Pada kuartal I 2026, pendapatan SIDO tercatat sebesar Rp640 miliar, turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp789 miliar.
Di sisi lain, Irwan membeberkan target laba perseroan pada 2026 minimal setara dengan capaian periode yang sama tahun sebelumnya.
“Target kami kalau tahun 2026 profitnya minimal sama dengan tahun lalu,” ujar Irwan.
Dari sisi kinerja saham, harga saham SIDO sejak awal 2026 turun 12,96% ke level Rp470 per lembar.
Dalam sebulan terakhir saja, saham SIDO terkoreksi 8,74% dan pada perdagangan sesi dua hari ini turun 1,26% hingga pukul 14.08 WIB. (DK)