ARCI tambah kapasitas pabrik 50%, buka tambang bawah tanah baru

Rabu, 13 Mei 2026

image

JAKARTA – PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), emiten emas terafiliasi Peter Sondakh, memasang posisi untuk menggenjot produksi emas di tahun 2028 dengan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan serta pembukaan tambang bawah tanah baru di Sulawesi Utara.

Di tahun 2026, Perseroan akan meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan hingga 50%, dari 4 juta ton per tahun (Mtpa) menjadi 6 Mtpa. 

Selain itu, ARCI juga akan mulai membuka tambang bawah tanah Marawuwung di area Tambang Toka Tindung miliknya, yang dipimpin anak usahanya, PT Meares Soputan Mining (MSM).

“Harapan kami, dua proyek strategis ini akan meningkatan produksi Perseroan secara signifikan mulai dari tahun 2028 dan ke depannya,” ujar Rudy Suhendra, Direktur Utama ARCI, dikutip dari hasil Paparan Publik 2026, Selalsa (12/5).

Sementara itu, di tahun 2026, ARCI sendiri menargetkan peningkatan produksi 15% dibandingkan tahun 2025, yang mencapai 122 kilo ons. Dengan kata lain, ARCI menargetkan produksi emas 2026 mencapai sekitar 140 kilo ons.

Kinerja ARCI hingga akhir kuartal I 2026 pun masih sesuai target tersebut. “Jika dilihat dari performance kami pada Q1 2026 vs Q1 2025, secara produksi kami meningkat sebesar 40%,” ungkap Rudy.

Didukung target operasional tersebut, ARCI menyasar laba bersih dapat tumbuh hingga dua kali lipat di tahun 2026, dengan asumsi harga emas global stabil di level US$4.700–5.000 per troi ons.

Lonjakan harga emas global sepanjang 2025 – yang mencapai sekitar 64% – memang memberi angin segar untuk para perusahaan tambang emas di tahun lalu.

ARCI, misalnya, membukukan laba hingga US$103 juta pada tahun 2025, melonjak hingga 10 kali lipat dari capaian tahun sebelumnya, dengan margin yang meroket dari 4% menjadi 21%.

Namun, ARCI menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hanya dari faktor harga emas yang mendukung. Pasalnya, produksi emas juga naik 31% secara tahunan pada 2025, dan kadar emas yang diolah juga meningkat.

“Kami juga berhasil melakukan strategi efisiensi biaya dan mengolah bijih berkadar emas yang lebih tinggi, sehingga margin bisa meningkat lebih tinggi daripada kenaikan produksi,” jelas Rudy.

Di sisi lain, penjualan ARCI hanya meningkat 27,8% pada 2025 di tengah harga emas yang melonjak. Manajemen mengaku tetap optimistis terhadap harga emas ke depannya, dan mengutamakan kestabilan arus kas demi keberlanjutan produksi.

“PT Archi Indonesia adalah perusahaan tambang, bukan trader,” tegas Rudy.

Namun, berdasarkan data Trading Economics, emas spot per Selasa (12/5) telah menyentuh level US$4.688 per troi ons, jatuh sekitar 16% dari titik tertingginya pada Januari 2026 lalu di level US$5.600. (ZH)