Akibat serangan drone, Rusia prediksi produksi minyak 2026 stagnan
Rabu, 13 Mei 2026

MOSCOW - Rusia memperkirakan produksi minyaknya akan stagnan pada 2026 dan hanya tumbuh tipis dalam dua tahun berikutnya di tengah meningkatnya serangan drone dari Ukraina terhadap infrastruktur energi negara tersebut.
Dalam proyeksi dasar Kementerian Ekonomi Rusia yang dirilis Selasa, produksi minyak mentah dan kondensat diperkirakan mencapai sekitar 511 juta ton tahun ini atau setara 10,26 juta barel per hari.
Seperti dikutip Bloomberg, produksi diproyeksikan naik tipis menjadi 516 juta ton pada 2027 dan mencapai 525 juta ton dalam dua tahun selanjutnya.
Sebagai produsen minyak terbesar kedua dunia setelah AS, Russia sangat bergantung pada sektor minyak dan gas yang menyumbang hampir seperlima pendapatan anggaran negara. Pendapatan energi tersebut turut menopang operasi militer Kremlin di Ukraina.
Untuk menekan sumber pendanaan perang Rusia, Ukraine meningkatkan serangan drone ke berbagai aset energi Rusia, mulai dari kilang hingga terminal ekspor laut.
Gelombang serangan terbaru disebut telah mengganggu ekspor minyak laut dan aktivitas pengolahan minyak Rusia.
Jika gangguan berlangsung lama, Rusia berpotensi memangkas produksi minyaknya.
Sejak perang dimulai pada awal 2022, Rusia mengklasifikasikan sebagian besar data industri minyaknya sehingga sulit diverifikasi secara independen.
Berdasarkan data OPEC, produksi minyak mentah Rusia pada kuartal I-2026 rata-rata mencapai 9,19 juta barel per hari, belum termasuk kondensat yang biasanya menyumbang sekitar 10% total produksi nasional.
Di sisi lain, ekspor minyak Rusia diperkirakan naik menjadi lebih dari 237 juta ton tahun ini atau sekitar 4,76 juta barel per hari.
Namun pada 2027, ekspor diproyeksikan turun menjadi 227,4 juta ton tanpa penjelasan rinci dari pemerintah.
Untuk sektor gas alam, Rusia memperkirakan produksi meningkat bertahap dari 688,4 miliar meter kubik tahun ini menjadi 750,4 miliar meter kubik pada 2029.
Pertumbuhan didorong peningkatan ekspor melalui pipa maupun pengiriman LNG.
Ekspor gas melalui pipa diperkirakan stagnan di level 115,5 miliar meter kubik tahun ini sebelum naik menjadi 127,5 miliar meter kubik pada 2029. Kenaikan tersebut didukung peluncuran jalur Far Eastern menuju China pada 2027 dengan pasokan awal 10 miliar meter kubik per tahun.
Tahun lalu, Gazprom dan China National Petroleum Corp. juga menandatangani kesepakatan peningkatan pasokan gas melalui jaringan Power of Siberia sebesar 6 miliar meter kubik per tahun.
Sementara itu, ekspor LNG Rusia diperkirakan melonjak lebih signifikan menjadi 40,3 juta ton tahun ini atau naik sepertiga dibanding 2025, dan mencapai 66,2 juta ton pada 2029.
Proyeksi itu didorong peningkatan pengiriman dari proyek Arctic LNG 2 meski terkena sanksi Barat, seiring tingginya permintaan dari China.
Meski begitu, target produksi LNG tersebut masih jauh di bawah ambisi Presiden Vladimir Putin yang sebelumnya menargetkan produksi LNG Rusia mencapai 100 juta ton per tahun pada akhir dekade ini.
Target tersebut akhirnya ditunda beberapa tahun akibat sanksi Barat. (DK)