Laba BINA naik 268%, kredit tembus Rp14,8 triliun hingga Maret 2026

Rabu, 13 Mei 2026

image

JAKARTA - PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) mencatat laba bersih sebesar Rp53 miliar hingga akhir Maret 2026, melonjak 268% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menghasilkan earnings per share (EPS) sebesar Rp8,64.

Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan operasional, peningkatan pendapatan nonbunga, serta optimalisasi aset produktif di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Pendapatan operasional Perseroan mencapai Rp277 miliar atau meningkat 59%. Pendapatan tersebut mampu menutup biaya operasional sebesar Rp175 miliar sehingga laba operasional sebelum cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) mencapai Rp102 miliar.

Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi tercatat sebesar Rp2,32 miliar atau meningkat 7,1%, sementara pendapatan lainnya melonjak nyaris 12 kali menjadi Rp105,34 miliar.

Dari sisi intermediasi, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 21,51% menjadi Rp25,03 triliun.

Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar 71,93% menjadi Rp10,03 triliun, sedangkan dana deposito tercatat stabil di level Rp15 triliun.

Direktur Keuangan Kiung Hui Ngo mengatakan industri perbankan masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan perlambatan ekonomi domestik.

“Pada triwulan pertama ini, kondisi ketidakpastian sangatlah tinggi, dari risiko geopolitik sampai dengan isu domestik banyak mendominasi dan mengganggu atau mendisrupsi sedikit pertumbuhan usaha yang ada di Indonesia. Dan perbankan pada khususnya juga pastinya serdampak,” ujar Kiung dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (13/5).

Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 18,39%, sedangkan rasio efisiensi BOPO membaik menjadi 88,46% dari sebelumnya 95%. Adapun rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 3,13%.

Di sisi penyaluran kredit, perseroan mencatat kredit sebesar Rp14,8 triliun, naik dari Rp13,4 triliun pada periode sebelumnya. Sebanyak 89% kredit disalurkan ke sektor produktif, sementara kredit konsumsi berkontribusi 11%.

“Perseroan mengalami pertumbuhan di sektor konsumsi, kredit konsumsi ini yang cukup signifikan, dari yang Rp800 miliar di tahun lalu menjadi Rp1,6 triliun di Maret 2026,” kata Kiung.

Perseroan juga mengoptimalkan dana yang belum tersalurkan ke kredit melalui penempatan pada surat berharga serta instrumen Bank Indonesia dan bank lain.

“Memang sedikit lebih tinggi dari rata-rata industri maupun KPMI 1, tapi kami fokus dan kami tetap mencermati supaya penurunan kualitas kredit yang ada bisa kami kelola dengan maksimal dan pertumbuhan kredit yang ada itu adalah pertumbuhan kredit yang sehat,” ujar Kim.

Perseroan juga memperkuat struktur pendanaan murah. CASA meningkat menjadi Rp10 triliun dengan rasio CASA naik menjadi 40% pada kuartal I-2026 dari sebelumnya 28,3%.

Selain itu, transformasi digital yang dijalankan sejak 2023 mulai memberikan kontribusi signifikan. Nilai transaksi ekosistem digital meningkat menjadi Rp73 triliun sepanjang 2025 dari sebelumnya Rp22 triliun pada 2024.

Hingga akhir Maret 2026, total aset perseroan tercatat sebesar Rp31 triliun atau tumbuh 27% secara tahunan.

“Perseroan konsisten untuk membangun ekosistem digital yang komprehensif. Mulai dari API banking yang terintegrasi, mobile application yang intuitif hingga penetrasi masif di acceptance business dan internet business,” tutup Kiung. (DH)