Biodiesel Thailand krisis, kerugian capai 120 miliar baht

Kamis, 14 Mei 2026

image

BANGKOK - Thailand tengah menghadapi persimpangan penting dalam sektor energinya.

Para pelaku industri memperingatkan bahwa negara tersebut diperkirakan telah kehilangan hingga 120 miliar baht dalam enam tahun terakhir akibat pengelolaan stok minyak sawit yang dinilai tidak efisien.

Di tengah percepatan transisi energi bersih global, industri biodiesel Thailand menyerukan intervensi pemerintah yang lebih tegas untuk menstabilkan stok serta menghadirkan arah regulasi yang lebih jelas dan konsisten.

Para ahli industri menilai, jika pengelolaan dilakukan lebih efisien, beban subsidi dari Oil Fund nasional sebenarnya bisa ditekan hingga sekitar 50 miliar baht, mengutip dari The nation.

Dana tersebut dinilai dapat dialihkan untuk mendukung agenda transisi energi hijau Thailand.

Menurut laporan Kanyanat Butdee dari Krungthep Turakij, kondisi ini digambarkan oleh Sanin Triyanond, Presiden Asosiasi Produsen Biodiesel Thailand, sebagai peluang besar yang belum dimanfaatkan optimal.

Ia menyebut Thailand seperti “penyerang yang sudah diberi umpan tepat di depan gawang”, namun belum mampu mengeksekusi peluang karena lemahnya kebijakan.

Thailand sendiri berada dalam posisi unik sebagai negara dengan ketahanan pangan dan energi sekaligus.

Dengan produksi minyak sawit mentah sekitar 3,9 juta ton per tahun, kebutuhan domestik dan energi dapat terpenuhi, bahkan masih menyisakan surplus ekspor sekitar 30%.

Namun sebagai produsen terbesar ketiga dunia, Thailand menghadapi tekanan harga dari kompetitor regional seperti Indonesia dan Malaysia.

Sanin menegaskan, jika stok dikelola lebih baik dan harga diselaraskan dengan pasar global dalam enam tahun terakhir, negara itu berpotensi menghemat hingga 120 miliar baht.

Di luar sektor bahan bakar, industri biodiesel Thailand kini mendorong transformasi menuju model “biorefinery” bernilai tambah tinggi. Kebijakan sebelumnya seperti mandat B10 dan B20 dinilai berhasil menarik investasi asing ke industri kimia berbasis bio.

Tahap berikutnya adalah pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), di tengah meningkatnya permintaan global terhadap minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO).

Tantangan utama Thailand adalah memastikan pengelolaan bahan baku yang transparan dan memenuhi standar keberlanjutan internasional.

Pelaku industri menekankan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah.

Tanpa arah regulasi yang stabil, investor akan ragu menanamkan modal jangka panjang, terutama untuk pengembangan SAF dan biorefinery.

Jika berhasil, Thailand berpeluang naik kelas dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi pusat bioenergi regional, dengan integrasi kuat antara sektor pertanian, energi, dan industri kimia sebagai motor pertumbuhan ekonomi masa depan. (DK)