Lebih dari 600 jiwa tewas akibat banjir di Sumatera, ratusan hilang
Selasa, 02 Desember 2025

JAKARTA – Jumlah korban jiwa yang tewas akibat bencana banjir dan longsor di sebagian wilayah Sumatera, mencapai 604 orang hingga Senin (1/12) kemarin.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu juga mengungkap sebanyak 464 orang masih dalam tahap pencarian.
Laporan Reuters menyebut bencana alam ini juga membuat 28 ribu rumah warga rusak, yang berdampak langsung pada 1,5 juta penduduk.
Bencana yang juga terjadi di sejumlah negara tetangga itu, termasuk Malaysia dan Thailand, disebut sebagai dampak badai tropis yang terbentuk di Selat Malaka.
Di Indonesia, sejumlah inisiatif pemulihan telah dilakukan—termasuk pemulihan infrastruktur dan area pemukiman warga.
Presiden Prabowo Subianto telah datang ke Sumatera Utara, melihat situasi terkini dan mendukung upaya pemulihan. “Ada beberapa jembatan yang masih terputus, tapi kita akan berusaha bisa melewati kesulitan ini,” ungkap Prabowo.
Sejumlah ilmuan dalam laporan Reuters juga memperingatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem, yang akan terjadi lebih sering akibat dampak pemanasan global.
Di wilayah Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, wilayah pemukiman warga juga tersapu banjir dan hanya menyisakan sejumlah bangunan seperti tempat ibadah.
“Dulunya rumah-rumah ini adalah milik orang tua saya, saudara, dan juga penggilingan padi, kini semuanya sudah lenyap,” kata Muhammad Rais, yang tinggal di Palembayan dan kehilangan dua anggota keluarganya.
“Sekarang kami tidak punya apa-apa lagi,” ungkap Rais, dilansir Reuters.
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), jaringan kemanusiaan terbesar di dunia, menilai bencana yang melanda di Indonesia, Malaysia, dan Thailand menandai kurangnya sistem peringatan dini akan terjadinya bencana.
“Semua ini sedang diupayakan oleh IFRC dan akan terus kami upayakan di tahun-tahun mendatang,” ungkap Alexander Matheou, Direktur Regional IFRC untuk Asia Pasifik, dalam keterangan resminya.
Selain itu, IFRC juga menyerukan dukungan internasional untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk pemulihan pascabencana. (KR)