Perketat kendali Selat Hormuz, Iran kerahkan kapal selam mini
Rabu, 13 Mei 2026

TEHERAN - Iran mengatakan telah mengerahkan kapal selam mini untuk berperan sebagai “penjaga tak terlihat” di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan dan kegagalan sejumlah upaya perdamaian antara Teheran dan Amerika Serikat.
Menurut International Institute for Strategic Studies, Iran memiliki sedikitnya 16 kapal selam kecil kelas Ghadir.
Seperti dikutip dari TheStraitsTimes, masing-masing diawaki kurang dari 10 personel dan dapat dipersenjatai dengan dua torpedo atau dua rudal anti-kapal C-704 buatan China.
Namun, sumber yang memahami situasi menyebut kapal ini relatif lebih berisik dibanding kapal selam modern, memiliki keterbatasan pengalaman awak, serta sering menghadapi masalah perawatan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.
Iran disebut telah meningkatkan kontrol atas wilayah tersebut, terutama melalui ancaman rudal dan drone murah, termasuk potensi penggunaan kapal selam mini ini sebagai bagian dari strategi pencegahan.
Media semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa kapal selam Ghadir memang dirancang khusus untuk perairan dangkal seperti Selat Hormuz, yang memiliki kedalaman terbatas sehingga menyulitkan kapal selam untuk bersembunyi secara efektif dari deteksi sonar.
Meski begitu, kapal selam Iran belum dilaporkan terlibat langsung dalam pertempuran. Satu-satunya kapal selam besar Iran, kelas Kilo era Soviet, sebelumnya dilaporkan rusak di pelabuhan.
Sementara itu, kapal selam Ghadir yang lebih kecil hanya memiliki bobot sekitar 115 ton, jauh dibandingkan kapal selam besar yang bisa mencapai ribuan ton.
Para analis menyebut kapal selam mini umumnya digunakan untuk pertahanan pesisir, bukan operasi jarak jauh.
Tantangan utama penggunaannya di Hormuz adalah kondisi geografis yang dangkal dan sempit, yang juga membuat kapal selam lebih mudah terdeteksi.
Selain itu, risiko utama yang dikhawatirkan adalah kemungkinan penanaman ranjau laut serta serangan gabungan menggunakan drone dan kapal cepat, yang dapat meningkatkan ketegangan di jalur pelayaran vital tersebut. (DK)