CEO Unitree Wang Xingxing kendarai robot mekanik raksasa pertama

Kamis, 14 Mei 2026

image

BEIJING – Selama bertahun-tahun, gagasan manusia mengendalikan mecha bipedal raksasa hanya menjadi bagian dari film-film fiksi ilmiah seperti Pacific Rim. Kini, batas antara imajinasi dan rekayasa dunia nyata di China mulai memudar dengan cepat.

Seperti dikutip Global Times Selasa (12/05),  CEO Unitree RoboticsWang Xingxing, tampil mengendarai GD01, mecha berawak setinggi sekitar 2,7 meter yang diklaim sebagai mecha siap produksi pertama di dunia.

[[ Mechaa adalah singkatan dari "mechanical" (mekanik/mesin). Dalam bahasa Jepang, kata mekanikaru dipersingkat jadi meka (メカ), lalu diserap ke bahasa Inggris sebagai mecha.Secara harfiah artinya "mekanis" atau "robot mekanik", tapi dalam konteks budaya pop sudah jadi istilah khusus untuk robot raksasa.]]

Dalam demonstrasi yang menyerupai adegan film futuristik, Wang mengendalikan mesin berbobot sekitar 500 kilogram itu dari dalam kokpit. GD01 mampu bergerak maju dengan stabil sambil mengoperasikan lengan mekanis untuk menghancurkan dinding dengan mudah.

Unitree mengungkap robot tersebut pada Selasa dengan harga awal sekitar 3,9 juta yuan atau setara US$650.000.

Secara teknis, GD01 dirancang sebagai kendaraan sipil berawak dengan konfigurasi berkaki dua yang dapat berubah bentuk. Debutnya langsung viral di media sosial China maupun internasional dan memicu antusiasme besar publik.

Di platform Weibo, sejumlah pengguna menyebut demonstrasi itu sebagai momen ketika “fiksi ilmiah menjadi kenyataan.” Sebagian lainnya membandingkan GD01 dengan robot dalam franchise Transformers maupun Mobile Suit Gundam.

Surat kabar South China Morning Post bahkan menyoroti peluncuran tersebut dengan tajuk utama mengenai “Transformers di kehidupan nyata”.

Antusiasme serupa juga datang dari komunitas robotika global.

Lukas Ziegler, figur robotika populer di platform X, membagikan video demonstrasi GD01 sambil menyoroti dominasi China di industri humanoid global.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan China menyumbang hampir 90% penjualan robot humanoid dunia pada 2025. Ia juga mencatat Unitree mengirim lebih dari 5.500 robot humanoid tahun lalu.

“Barat membangun robot humanoid yang luar biasa. China membangunnya lebih cepat, lebih murah, dan dalam skala yang belum mampu didekati pihak lain,” ujarnya.

Menanggapi kritik terhadap harga GD01 yang dianggap terlalu mahal bagi konsumen umum, staf pemasaran Unitree, Huang Jiawei, mengatakan harga tersebut masih bersifat referensi awal.

Menurut Huang, versi produksi final kemungkinan akan berubah seiring optimalisasi performa dan efisiensi biaya.

Ia menjelaskan bahwa fokus utama Unitree adalah penggunaan robot untuk lingkungan kerja berisiko tinggi dan berat. Robot berkaki empat perusahaan, seperti seri B2 dan A2, disebut sudah digunakan dalam inspeksi industri dan berbagai skenario komersial guna meningkatkan efisiensi kerja.

“Produk ini masih generasi pertama, dan memang masih banyak ruang untuk pengembangan,” katanya.

Sementara itu, Chen Jing menilai GD01 menunjukkan China telah melewati “ambang batas rekayasa” penting dalam embodied AI.

Menurutnya, teknologi tersebut tidak lagi sekadar konsep laboratorium, tetapi sudah memasuki tahap komersialisasi dengan peta jalan bisnis yang jelas.

Namun, Chen juga mencatat sejumlah tantangan, mulai dari kenyamanan operator, daya tahan baterai, kompleksitas perawatan, hingga ketidakpastian regulasi.

Analis teknologi veteran Ma Jihua menambahkan bahwa meski adopsi massal masih jauh, teknologi mecha berawak berpotensi digunakan di sektor hiburan, taman rekreasi, produksi film, operasi penyelamatan, dan lingkungan berbahaya.

Peluncuran GD01 juga dinilai menjadi bagian dari ledakan industri embodied AI di China selama setahun terakhir.

Robot humanoid semakin sering muncul dalam berbagai demonstrasi publik, mulai dari pertunjukan Gala Festival Musim Semi hingga maraton robot humanoid dan video viral anjing robot di media sosial.

Pada Februari 2026, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China merilis sistem standar nasional untuk robot humanoid dan embodied AI guna mempercepat pengembangan industri tersebut.

Kota-kota seperti BeijingShenzhen, dan Shanghai juga mulai meluncurkan kebijakan dukungan berupa pembangunan taman industri robotika, fasilitas pengujian terbuka, dan peningkatan pendanaan teknologi masa depan.

Wang Peng menyebut keberhasilan GD01 sebagai hasil akumulasi panjang rantai pasok manufaktur China.

Menurutnya, ekosistem industri China yang sangat terintegrasi — mulai dari motor berkinerja tinggi, baterai, hingga material serat karbon — memungkinkan perusahaan mempercepat iterasi produk dan menekan biaya pengembangan.

“Keunggulan ekosistem seperti ini akan sulit direplikasi produsen luar negeri dalam jangka pendek,” ujarnya.

Data International Federation of Robotics menunjukkan China masih menjadi pasar robot industri terbesar di dunia.

Hingga 16 April 2026, terdapat 964 perusahaan terkait robot humanoid di China. Jumlah aplikasi paten sektor tersebut juga mencapai 1.174 sepanjang 2025, naik 89,7% secara tahunan dan menjadi level tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Analis menilai lonjakan inovasi ini mencerminkan semakin terbukanya China terhadap eksperimen teknologi masa depan, bahkan ketika nilai praktisnya belum sepenuhnya terlihat.

Seorang pengguna Weibo menggambarkan fenomena tersebut dengan komentar singkat: “Generasi yang tumbuh dengan menonton animasi kini mulai membentuk kembali dunia.” (SF)